rumput-tetangga-lebih-hijau

Akhir-akhir ini saya cukup dibingungkan dengan orang yang memiliki iren-irenan terhadap rumput tetangga yang terlihat lebih hijau. Sekali lagi harap mawas diri dan ingat pepatah “urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang”. Karena hidup itu cuma tentang melihat dan dilihat, tapi jangan hanya mengambil kesimpulan dari apa yang terlihat.

Hidup dan kehidupan orang lain pasti terlihat lebih enak dari kehidupan kita sendiri.  Itu manusiawi dan wajar saja cuma kita harus tahu cara menyikapi dan tetap positif.

Saya sering disambar orang dengan kalimat : “Wah, enak ya kamu jalan-jalan terus.” atau “Pasti kamu banyak duit, deh.” hanya karena saya menekuni hobi travelling. Mohon diingat hidup itu pilihan dan prioritas hidup kita adalah apa yang kita pilih dan tentukan sendiri.

PERTAMA, travelling itu hobi bagi saya. Hobi merupakan sesuatu yang saya lakukan dengan sukarela tanpa paksaan. Jadi ketika keadaan tidak memungkinkan seperti tidak ada waktu atau tabungan tidak mencukupi, saya tidak akan memaksakan keadaan. Ketika saya mempunyai cukup waktu dan cukup tabungan, ketika ada kesempatan : kenapa tidak saya lakukan?

Saya tidak akan travelling kalau tabungan saya pas-pasan atau bahkan sampai kehabisan uang “hanya karena hobi saya”. Menurut saya pribadi itu tidak bijak. Kalau memang masih ada kebutuhan yang memang penting kamu harus tahu menampatkan situasi. Ingat, hobi itu sukarela, jadi tidak perlu dipaksakan adanya dan keadaannya. Hobi itu seadanya dan semampunya saja. Saya juga pernah kok hiatus travelling karena tabungan saya hanya berkisar dibatas aman menurut standar saya. Karena sejujurnya saya tipikal orang yang tidak tenang kalau punya tabungan dibawah standar yang saya tetapkan sendiri.

Saya sendiri menyadari bahwa saya tidak mempunyai asuransi jiwa dan kesehatan yang bagus atau sangat bagus sehingga saya masih mempunyai resiko-resiko yang akibatnya harus saya tanggung sendiri ketika resiko tersebut terjadi pada saya. Hal itu membuat saya was-was. Sedangkan, saya tidak mau ketika “melakukan hobi yang kita sukai” tetapi merepotkan keluarga sendiri dan orang lain jika sesuatu terjadi pada saya. Itulah kenapa saya selama dua tahun belakangan ini menggunakan Travelling Insurance yang tahunan.

cheap-best-travel-insurance

Supaya saya lebih tenang dan nyaman dalam melakukan hobi saya yang bagi beberapa orang jauh dari prioritas hidup mereka (bahkan beberapa orang memasukkannya dalam kategori “tidak penting”). Asuransi tidak menghilangkan resiko yang pada dasarnya memang sudah melekat pada diri kita, tetapi setidaknya efek dari keterjadian resiko tersebut bisa kita limpahkan kepada pihak asuransi. Jadi jangan travelling untuk sekedar gaya, tetapi kita juga harus lebih bijak dan berpikir lebih panjang. (PS : Kata temen bagian ini saya kaya agen asuransi, tapi sumpah bukan ya ^^)

 

KEDUA, prioritas hidup orang itu berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan. Bagi orang generasi 90-an seperti saya,  tidak sedikit yang menempatkan “membangun keluarga yang berbahagia” alias “menikah dan berkeluarga” sebagai prioritas hidup mereka. Alasannya simple saja : sudah cukup umur dan mempunyai pekerjaan mapan. Tapi tidak semua orang menempatkan hal ini sebagai prioritas.

Saya sendiri memilih memanfaatkan waktu single saya sebaik-baiknya untuk mengenal dunia yang lebih luas dan bertemu dengan lebih banyak orang (tentunya yang lebih beragam juga) melalui travelling. Sehingga travelling ini kalau dalam urutan prioritas hidup saya saat ini, letaknya di atas posisi “menikah dan membangun keluarga”.

Jadi mohon maaf kalau ada yang menyawang saya enak sebagai single dan bisa travelling kemana saja bahkan sampai ada yang pernah bilang : “Wah, kamu enak sih masih single. Aku udah bersuami jadi susah deh sekarang kalau pergi-pergi.” atau “Kamu enak ya masih single, kalau jalan kan cuma mikir diri sendiri. Aku sekarang kalau jalan-jalan semua biaya dikali 3 untuk aku, istri dan anak.”.

Hmmh, sejujurnya rasa-rasanya ingin saya jawab : “Prioritas hidupmu, Pilihanmu.”, tapi apa daya hanya sampai di tenggorokan. Semua yang kamu jalani itu pilihan kamu sendiri dan segala resiko yang menyertainya juga resiko kamu sendiri. Hal itu juga berlaku untuk saya.

Ketika kamu memilih untuk “membangun keluarga yang berbahagia” sebagai prioritas hidup kamu, kamu tidak perlu pusing lagi memikirkan orang yang selalu suka mengurusi urusan orang lain dengan bertanya : “kapan kawin?”. Persoalan ini terlihat sepele, tapi saya yakin sebenarnya cukup membuat orang yang single apalagi jomblo kepikiran, lho. (Ceritanya curhat nih, hahaha)

Perlu diingat prioritasmu yang telah kamu jalani membuat kamu kehilangan beban pertanyaan “kapan kawin?” yang tak pernah luput dari pertanyaan  sanak saudara dan handai taulan ketika kamu pulang ke kampung halaman.

Tapi, kamu juga harus sadar konsekuensi yang ada misalnya kebutuhan kamu yang semakin meningkat dan kamu menjadi “terikat”. Sekali lagi itu resiko dan pilihan kamu sendiri. Kalau kamu iri dengan saya yang terlihat lebih “enak” sebagai single, mohon maaf ya sekali lagi : prioritasmu, pilihanmu, resikomu. Jangan mudah iren-irenan atau over sensitive ketika melihat orang lain terlihat lebih enak.

Ketika kamu menikah, memiliki rumah itu menjadi suatu hal yang wajib. Kemudian muncul kebutuhan-kebutuhan lain yang saya tahu itu tidak sedikit. Tapi lihat sisi positifnya, kamu mempunyai harta tetap dan tak tergantikan : Home and family. Saya yang katanya “terlihat enak” ini tidak memiliki “harta” yang kamu miliki dan juga saya tidak mempunyai kewajiban dan kebutuhan seperti yang kamu miliki. Sehingga, saya dapat mengalokasikan apa yang saya hasilkan untuk apa yang saya sukai. Tapi tetap saya mempunyai resiko batin sendiri dengan menanggung pertanyaan  “Kapan kawin?” atau pernyataan “Jangan sampai jadi perawan tua.” setiap pulang kampung. Saya tahu ini resiko saya dan saya tidak iri dengan hidup dan kehidupan orang lain. Kamu mempunyai “harta” sendiri, saya juga mempunyai “harta” sendiri : Memories and Experience.

rumput-tetangga-lebih-hijau

Ingat ya, rumput tetangga pasti selalu terlihat lebih hijau. Tapi karena kamu tidak makan rumput tetangga, kamu tidak pernah tahu itu rumput beneran yang rasanya manis  atau cuma rumputrumputan yang dimakan saja tidak bisa.

Jadi kalau mulai ada timbul iri-iri sedikit dalam hati sebenarnya itu wajar dan manusiawi, tapi ingatlah pepatah Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang. . Hidup hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat. Jadi jangan jadikan penyakit hati.

 

Rahayu,

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

(Visited 524 times, 1 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *