Perlu dicatat, bahwa saya adalah tipikal orang yang tidak bisa melewatkan sarapan. Selain itu, saya cenderung memesan hotel tanpa breakfast supaya “jatah kalori per hari” saya yang berharga bisa saya nikmati dengan menjajal berbagai makanan legendaris di tempat yang saya kunjungi. Terakhir kali saya ke Bangkok, saya menginap di Pas Cher Hotel de Bangkok di area Bang Rak. Saya cukup menikmati menginap di sana karena banyak sekali tempat makan legendaris yang menjadi favorit warga lokal. Sebagai makhluk pemakan segala, maka ini adalah berkah liburan yang luar biasa. Dua hari saya menginap dan dua hari juga saya berhasil mencoba menu sarapan legendaris warga lokal di area itu.

Berikut rekomendasi sarapan yang bisa kamu nikmati di daerah Bang Rak. Tetapi mohon maaf sebelumnya, karena efek bangun tidur dan belum mandi serta otak yang belum “on”, saya selalu lupa membawa kamera yang mumpuni untuk mengabadikan sarapan legendaris di sana. Tetapi setidaknya saya berhasil mengabadikannya meskipun dengan kamera yang ala kadarnya.

 

Prachak Pet Yang

1415 Charoen Krung Rd., Bangkok, Thailand
Open 07.30 – 20.30
Non Halal
http://www.prachakrestaurant.com/

Prachak merupakan restoran legendaris di Bangkok yang sudah berdiri sejak 1909 dengan menu legendarisnya berupa roasted duck. Restoran ini buka sedari pagi hingga petang dan selalu ramai dengan warga lokal.

Bagian depan Restoran Prachak Pet Yang, Bangkok

Bagian depan Restoran Prachak Pet Yang, Bangkok

Restoran ini berada di area Bang Rak dan tidak jauh dari BTS Saphan Taksin. Anda cukup berjalan kai karena restoran ini berada di deretan toko-toko yang terletak di seberang Robinson. Cukup mudah ditemukan.

 

suasana-dalam-prachak

Suasana bagian dalam Prachak Pet Yang

 

Suasana dalam Prachak Pet Yang sudah ramai, padahal mereka baru buka

Suasana dalam Prachak Pet Yang sudah ramai, padahal mereka baru buka

 

The Legendary Roasted Duck

The Legendary Roasted Duck

Kami memasuki Restoran yang sudah cukup ramai dengan warga lokal yang mengantri pesanan yang rata-rata untuk take away. Kemudian kami duduk dan diberikan Menu Card oleh staf Restoran. Menu Card disini menggunakan dua bahasa : Thai and English. So, kalian tidak akan kesulitan untuk mengetahui nama menu dan harganya. Selain itu, setiap menu yang ditawarkan dilengkapi dengan gambar sehingga memudahkan kita untuk membayangkan tampilan makanan.

 

 

Bagian depan Prachak Menu Card

Bagian depan Prachak Menu Card

Sejarah panjang Prachak, sayangnya tidak ada English-nya

Sejarah panjang Prachak, sayangnya tidak ada English-nya

 

prachak-menu-card-1 prachak-menu-card-2 prachak-menu-card-3 prachak-menu-card-4
Semua ini isi dari Prachak Menu Card

Semua ini isi dari Prachak Menu Card

Menu Prachak Pet Yang juga bisa kalian lihat di website mereka, lho! Menu yang katanya tidak boleh dilewatkan disini adalah Khao naa ped (rice topped with roast duck). Tetapi karena saya sedang malas makan nasi, saya hanya memesan menu-menu tanpa nasi : Crispy Pork, Roasted Duck dan Shrimp Wonton. Namun akhirnya setelah pesanan saya datang, saya dan kawan memutuskan untuk memesan Steam Rice satu porsi untuk berdua.
Saat memesan, staf Prachak yang melayani kami tidak bisa berbahasa Inggris. Sehingga, ia meminta bantuan pada entah staf atau owner yang duduk sebagai kasir disitu yang ternyata juga tidak bisa berbahasa Inggris secara aktif. Namun, ia bisa berbahasa Inggris pasif sehingga mengerti pesanan kami. Tentu saja, saya menyebutkan pesanan sambil menunjuk-nunjuk gambar di Menu Card.

Saya dan kawan menunggu cukup lama untuk pesanan kami karena memang kondisi Restoran cukup ramai dengan warga lokal yang mengantri pesanan take away. Dana akhirnya pesanan kami datang satu persatu…

Steamed Rice and Shrimp Wonton by Prachak yang pertama kali datang ke meja...

Steamed Rice and Shrimp Wonton by Prachak yang pertama kali datang ke meja…

 

Crispy Pork by Prachak yang datang kemudian...

Crispy Pork by Prachak yang datang kemudian…

Roasted Duck by Prachak yang datang terakhir saat semuanya sudah dilahap setengah jalan...

Roasted Duck by Prachak yang datang terakhir saat semuanya sudah dilahap setengah jalan…

Semua makanan di sini benar-benar enak dan berkualitas. Selain itu harganya terjangkau bila dibandingkan dengan kualitas makanan yang mereka berikan. Pantas saja Restoran ini mampu bertahan lebih dari seratus tahun ditengah gempuran zaman.

Buat kalian yang rasa dari Roasted Duck yang membuat Restoran ini bertahan selama lebih dari seratus tahun, kalian bisa mengunjungi Prachak Pet Yang. Benar-benar worth every single penny.

 

 

Jok Prince

1391 Charoenkrung Rd, Silom, Bangrak, Bangkok 10500 (Opposite entrance of Shangri-la Hotel)

Open Daily: 6am – 10am and 5pm – 11pm

Non Halal

 

Jualan apaan sih Jok Prince? Oke, dia tidak ada hubungannya pangeran tampan dari negeri Gajah Putih. “Jok” mempunyai arti bubur, yang merupakan menu andalan dari kedai ini. Mengapa ada “Prince” nya? Alasannya simple, karena ia berlokasi di gang menuju Prince Theatre. Inget ya, dia benar-benar berlokasi di gang. Sayangnya, saya tidak sempat mengambil foto kedai ini karena kondisinya saat itu yang cukup ramai. Berikut tampilan kedai bubur legendaris yang saya ambil dari goslowlyeatwell.com .

Tampilan Kedai Jok Prince credit to goslowlyeatwell.com

Tampilan Kedai Jok Prince credit to goslowlyeatwell.com

Lokasi kedai ini tidak jauh dari BTS Saphan Taksin. Anda harus berjalan menelusuri deretan toko-toko di seberang Robinson dengan cermat karena lokasinya nyempil di sebuah gang yang terletak di seberang pintu masuk Shangri-La Hotel.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya dan kawan mendapatkan tempat duduk. Penjual pun memberikan memberikan kami Menu Card yang untungnya berbahasa Inggris.

Menu di Jok Prince

Menu di Jok Prince cukup simple dan tidak banyak

Saya pun memesan Jok dengan Pork + Egg dengan tambahan Century Egg alias Telur Pitan. Sama dengan Prachak, staf disini juga tidak dapat berbahasa Inggris dengan aktif tetapi mereka cukup mengerti pesanan saya.

Porridge with Pork, Egg and Century Egg by Jok Prince

Porridge with Pork, Egg and Century Egg by Jok Prince

Tenyata pork disini disajikan seperti bola-bola daging yang cukup besar dan banyak. Yang menjadi favorit saya adalah telur dan telur pitannya. Oh ya, awalnya saya cukup terkejut dengan aroma buburnya. Aroma bubur disini ada aroma sangit alias gosong. Mungkin itu karena mereka memasak buburnya dengan kayu sehingga meninggalkan jejak aroma seperti itu. Bagi teman saya, aroma seperti itu kurang cocok untuknya. Kalau saya sih fine-fine saja. Mungkin karena adanya perbedaan persepsi dimana bagi orang Jawa pada umumnya, aroma sangit pada bubur adalah tanda kegagalan dalam pembuatannya.

Overall, bubur ini layak untuk dicoba ketika kalian jalan ke Bangkok.

 

Begitulah inspirasi menu sarapan di Bangkok dari saya. Jika saya mengunjungi Bangkok lagi dan menemukan refrensi sarapan legendaris lainnya, saya akan update di blog ini.

 

Rahayu,

 

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

 

 

(Visited 1,371 times, 9 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *