Sewaktu berkunjung ke Melaka pada liburan yang lalu, saya mengunjungi puing Gereja St. Paul (St. Paul Church). Di reruntuhan gereja tertua di Malaysia dan Asia Tenggara itu, terdapat beberapa seniman yang menjajakan dagangannya. Yang menarik perhatian saya dan seorang kawan adalah seorang seniman yang tunarungu bernama Kevin. Ia duduk sembari melukis salah satu sudut kota Melaka : Queen Victoria’s Fountain.

Kevin sedang mengerjakan karyanya...

Kevin, seorang seniman tunarungu sedang mengerjakan karyanya…

Kami mengamati Kevin yang sedang mewarnai karyanya dengan menggunakan spidol dengan asyiknya. Bagaimana tangannya fasih mengeja warna dan bagaimana raut mukanya yang selalu tampak bahagia dalam berkarya. Kami pun melihat-lihat karyanya yang telah selesai ia buat.

Kawan saya memilih lukisan...

Kawan saya memilih lukisan…

 

Kawan saya akhirnya memilih sebuah lukisan untuk kenang-kenangan bagi dirinya sendiri, sedang saya masih galau untuk memilih yang mana. Jujur, saya udah kaduung naksir dengan lukisan yang sedang Kevin kerjakan. Gayung bersambut, ternyata lukisan yang Kevin buat pun selesai dan saya langsung membelinya.

Saya senang sekali dengan style lukisan Kevin, baik dari goresannya, maupun cara ia memilih warna. Kevin sangat ramah dan kami sempat mengobrol meskipun dengan perantara selembar kertas dan sebuah pena. Oh, ya kami bahkan sempat mengambil foto bersama, lho! (Maaf tidak untuk dipublikasikan karena kondisi wajah awut-awutan akibat serangan matahari)

Kami akhirnya membeli dua buah lukisan

Kami akhirnya membeli dua buah lukisan seharga RM 15/ buahnya, murah ya?

 

I'm so happy bisa membeli lukisan yang satu ini...

I’m so happy bisa membeli lukisan yang satu ini. Kawan saya pun iri dengan saya, hahaha…

 

Kevin's mark

Lihatlah detail lukisan Kevin yang dibuat dengan menggunakan spidol, detail arsirannya cantik, ya?

Di area reruntuhan Gereja yang dibangun pada tahun 1521 ini terdapat beberapa pelukis lain dengan gaya yang berbeda-beda. Salah satunya adalah bapak yang satu ini (maaf saya lupa nama Bapak).

Seniman lain yang ada di sekitar reruntuhan St. Paul Church

Seniman lain yang ada di sekitar reruntuhan St. Paul Church…

Bapak ini sangat ramah ketika kami melihat-lihat dan mengamati lukisan. Bahkan ia bercerita bagaimana sejarah ia dan keluarganya dalam melukis. Dan ia juga menceritakan bahwa semua pelukis di area itu adalah teman baik. Tidak ada persaingan karena memang style mereka berbeda dan seni bukan untuk bersaing bukan? Semua seniman di area itu punya penikmat sendiri.

Lukisan yang ia suguhkan menggunakan cat air dan jika dilihat style-nya jauh berbeda dengan Kevin. Bapak ini sangat ramah, bahkan mengizinkan kami mengambil foto meskipun kami tidak membeli. Saat itulah saya belajar seni menghargai. Bagaimana ia mengapresiasi kami yang telah mendengarkan ceritanya tentang sejarah keluarganya dalam melukis, tentang Melaka tempo dahulu, tentang orang-orang Melayu. Bagaimana kami mengapresiasi ia dan karya yang ia suguhkan melalui sesimpul tawa.

Lukisan cat air, berbeda dengan style lukisan Kevin, kan?

Lukisan cat air, berbeda dengan style lukisan Kevin, kan?

Setelah berkunjung kesana, entah mengapa secara seketika dan sekaligus saya merasa harga lukisan-lukisan yang mereka tawarkan terlalu murah. Tetapi saya yakin mereka melukis bukan semata-mata untuk menghidupi jasmani dengan pundi-pundi ringgit. Melukis itu sendiri yang telah menghidupi ruh dan jiwa mereka. Bahkan juga menghidupi jiwa para penikmat karyanya. Dari seni menghargai, kita baru bias menghargai sebuah karya seni sesungguhnya.

Ah, saya jadi teringat komunitas gamelan muda Samurti Andaru Laras (SAL) yang saya ikuti. Kami seringkali mendapat tawaran tampil untuk berbagai acara, namun sering pula tawaran tersebut tidak berbuah menjadi nyata karena tidak adanya kesepakatan harga. Iya, harga. Mungkin, bagi pengundang harga yang kami tawarkan cukup mahal. Ya, bagaimana tidak mahal? Kami harus menyewa gamelan dan sound system-nya, juga menyewa kostum jika diperlukan. Biaya yang kami tawarkan semuanya habis untuk anggaran tadi. Bahkan kami para pemainnya tidak mengambil sepeserpun rupiah dan seringkali iuran lagi agar bisa berbagi indahnya melodi peninggalan leluhur kami. Kami berkesenian bukan untuk menggemukkan pundi harta. Kami berkesenian dari, oleh, dan untuk kebahagiaan jiwa kami. Dan seni itu memang sungguh mahal nilainya.

Yang kami butuhkan sebagai orang yang berkesenian (meskipun kami bukan professional) adalah ruang untuk mengaktualisasikan diri. Jika gamelan ada dan sound system siap, kami siap untuk memainkannya tanpa sepeser rupiah pun. Meskipun kami hanya berbaju kebangsaan kami berupa polo merah yang seragam, yang penting niat kami tulus untuk berbagi indahnya seni. Seperti pada kesempatan yang lalu kami mengisi acara Kopdar Komunitas Backpacker Jakarta yang bertempat di Gedung Wayang Orang Bharata. Kami senang karena telah diberikan ruang berekspresi dan apresiasi.

 

Persiapan Tampil pada Acara Kopdar Forum Backpacker Jakarta di Gedung Wayang Orang Bharata

Persiapan Tampil pada Acara Kopdar Forum Backpacker Jakarta di Gedung Wayang Orang Bharata

 

samurti-andaru-laras-mengisi-acara-di-kopdar-komunitas-backpacker-jakarta-1

Penampilan Kami pada Kopdar Komunitas Backpacker Jakarta di Gedung Wayang Orang Bharata

Masalah menghargai seni dan seni menghargai ini mungkin merupakan salah satu penyebab kesenian tradisional Indonesia perlahan tapi pasti menuju kepunahan di negeri sendiri tetapi mulai berkembang di negeri orang. Seni pada dasarnya bisa bertahan tanpa sokongan rupiah, tetapi seni tidak bisa bertahan tanpa apresiasi. Segala bentuk kesenian membutuhkan ruang untuk berekspresi dan diapresiasi. Membutuhkan manusia-manusia yang memiliki seni menghargai. Membutuhkan manusia yang bisa menghargai seni. Inilah yang membuat seni itu abadi. Dan harga-menghargai bukan melulu soal nominal.

Rahayu,

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

(Visited 253 times, 2 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *