Diantara semua indera manusia, lidahlah yang paling sulit dikendalikan. Ia tidak bertulang, tapi mampu menyayat perasaan. Hingga banyak yang membenarkan bahwa “Lidah Tidak Bertulang tetapi Lebih Tajam dari Sebilah Pedang”. Itu memang benar adanya. Lalu nenek moyang kita melalui kata-kata bijaknya berusaha menolong anak cucunya lewat nasehat yang dikemas dan ditutur tinularkan dalam peribahasa : “Mulutmu, Harimaumu”. Artinya, Segala perkataanmu apabila tidak dipikirkan terlebih dahulu dapat menyakiti dan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Lidah tidak bertulang, namun lebih tajam dari sebilah pedang (sumber gambar : suarajakarta.co)

Lidah tidak bertulang, namun lebih tajam dari sebilah pedang
(sumber gambar : suarajakarta.co)

Tetapi jaman sudah menjelma menjadi era yang ultra modern. Dahulu, hanya dengan bicara orang dapat menyampaikan makna. Komunikasi tak ubahnya untaian kata yang keluar dari lisan yang terkadang diimbangi sedikit Bahasa tarzan (bahasa tubuh) untuk lebih meyakinkan bahwa makna dan maksud benar-benar tersampaikan.

Lalu peradaban berkembang, manusia berusaha mengabadikan kata yang terngiang agar tidak lekang oleh zaman lewat sebuah tulisan. Tulisan yang awalnya hanya dipahami segelintir orang yang merupakan kalangan elit dari sebuah negeri. Saat itu, seni baca tulis adalah kemewahan yang tidak boleh dikuasai kalangan yang bukan dari golongan wah.

Saat tulisanmu adalah abadi (sumber gambar : pskilogikita.com)

Saat tulisanmu adalah abadi (sumber gambar : psikologikita.com)

Dan zaman tak lagi berjalan ditempatnya, atas nama persamaan hak asasi manusia, tidak ada manusia di muka bumi ini yang tidak mempunyai hak untuk belajar seni baca tulis. Bahkan, hak atas seni baca dan tulis telah bergeser menjadi kewajiban. Di negeri kita sendiri, anak-anak yang lepas dari Taman Kanak-Kanak diwajibkan menguasai seni baca tulis agar ia dapat mengenyam bagaimana rasanya pendidikan di Sekolah Dasar.

Dunia sudah berubah sedemikian cepatnya. Sekarang, cukup dengan jemarimu, segala rasa, asa dan makna dapat kau ungkapkan meski mulutmu dalam diam. Sudah jarang ada orang yang bertengkar saling mencaci dengan mulutnya, kecuali kalau yang memang ingin jadi tontonan atau bersandiwara. Saling caci sekarang tak lagi bersuara, juga tak perlu lagi jadi tontonan bagi orang yang tak berkepentingan. Cukup dua tangan yang bekerja, tanpa suara, meski sakit hati yang ditimbulkan itu sama.

Berhati-hatilah dalam menggunakan jemarimu, karena jemarimu, harimaumu

Dan berbijaksanalah dalam menggunakan jemarimu, karena ia bertulang dan lebih tajam dari sebilah lidah. Dan lewat jemarimulah, tulisanmu (baik atau buruk) adalah abadi.

 

Jakarta, 13 September 2016

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

(Visited 530 times, 1 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

2 Comments

hermawanov

Berawal dari keyword “sawang sinawang”, terdampar di blog ini, hehe… dan saya menikmati beberapa postingannya, jadi inget masa2 masih suka ngeblog dulu. Salam kenal dari wong jowo yang terdampar di pulau sebrang…

Reply
Dilbar Sarasvati

Salam kenal, memang ngeblog itu susah-susah gampang. Bagi saya yang susah itu konsistensinya. Semoga saya bertahan, hehe…

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *