Akhir-akhir ini saya merasa kurang piknik. Sehari-hari terkurung dalam ruang kerja ditemani sebuah Personal Computer (PC) yang setia dan AC yang sumilir nun dingin cukup membuat hati saya lambat laun menjadi dingin, beku, kaku dan mudah marah. Dan semakin lama sindrom kurang piknik saya ini semakin akut.

Saya sudah jarang piknik otak dengan membaca buku yang bergenre “gue banget”.Juga sudah jarang piknik hati dengan jalan-jalan, makan-makan, maupun menonton film. Rasanya jati diri ini hampir mati.

Pada hari Rabu tanggal 15 Juni 2016 lalu, saya sedang mendapat tugas untuk melakukan perjalanan dinas di Malang dan Pasuruan. Awalnya saya ingin langsung cepat-cepat pulang ke Jakarta begitu pekerjaan selesai di hari Jumat. Tetapi tiba-tiba saja saya ingat sindrom kurang piknik saya yang semakin akut. Bahkan nges alias tidur sudah tidak mampu mengurangi gejala sindrom kurang piknik saya. Sehingga mau tak mau saya harus piknik segera, seketika dan sekaligus.

Sebenarnya di Malang ini banyak sekali tempat wisata, tepatnya di Batu. Namun sayangnya  tempat wisata di Malang ini sifatnya artificial alias buatan, seperti Jatim Park I, Jatim Park II, Museum Angkut, Secret Zoo dan lain-lain. Itu tipikal tempat wisata yang bukan selera saya banget. Sehingga saya mencari-cari tempat wisata alternatif yang bersifat natural tetapi tidak terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalur darat dari Malang.

Saat mencari inspirasi, tiba-tiba saya teringat akan perjalanan saya saat akan mendarat di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Diatas awan, malu-malu terlihat serangkaian pegunungan dengan Gunung Batok yang artistik dan magis sebagai sentralnya. Saya jadi ingin ke Bromo. Selama 23 tahun hidup saya, saya belum pernah menginjakkan kaki di bumi anak keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger itu.

Saya segera mencari informasi bagaimana caranya saya bisa kesana dengan mudah dan murah. Ternyata seiring berkembangnya slogan my trip my adventuremembuat banyak pihak yang membuka open trip ke destinasi wisata yang populer dengan biaya yang terjangkau. Untuk open trip ke Bromo dengan start Malang rata-rata bersifat one day trip, artinya perjalanan satu hari tanpa menginap. Dari berbagai penyedia jasa one day trip ke Bromo jadwal perjalanan alias itinerary-nya kurang lebih sama. Begitu juga apa yang include dan exclude dalam open trip tersebut. Biaya yang ditawarkan bervariasi dari Rp 240.000 – Rp 500.000 per orang dengan start Malang di meeting point biasanya di Stasiun Malang.

Saya ingin waktu saya efektif dan efisien di Malang karena sudah tidak ada lagi yang ingin saya kunjungi lagi di Malang. Sehingga, saya menginginkan one day trip ke Bromo dengan start pada hari Jumat tanggal 15 Juni 2016 menjelang tengah malam dan berakhir pada hari Sabtu siang tanggal 16 Juni 2016. Namun karena bulan Ramadhan termasuk low season, sulit sekali menemukan open trip dengan jadwal perjalanan Jumat – Sabtu seperti yang saya inginkan. Saya menghubungi beberapa penyelenggara one day trip Bromo untuk menanyakan ketersediaan jadwal perjalanan Jumat – Sabtu. Rata-rata mereka hanya membuka one day trip Bromo untuk jadwal Sabtu – Minggu. Lah, ngapain lagi dong saya di Malang dari Jumat siang sampai Sabtu menjelang tengah malam? Lagipula saya inginnya hari Minggu pagi sudah posisi di Jakarta supaya sempet pijat dan luluran di salon langganan. Jadi hari Senin pas ngantor sudah fresh, happy, serta tidak capek lagi. Mereka malah menyarankan untuk private tour untuk dua orang (saya dan teman perjalanan dinas saya) dengan biaya Rp 750.000 – Rp 1.000.000 per orang. Lumayan juga kan selisihnya, bisa untuk jajan baju atau sepatu di H&M yang lagi SALE.

Saya terus mencari tanpa berputus asa untuk menemukan penyelenggara open trip dengan jadwal Jumat – Sabtu sesuai idaman saya. Dan memang Tuhan tidak pernah menutup mata akan umatnya yang sudah berusaha. Saya menemukan sebuah penyelenggara open trip bernama Jagad Tour yang menawarkan Open Trip Ke Bromo pada hari Jumat – Sabtu dengan biaya Rp 350.000 per orang. Saya menanyakan itinerary rinci untuk perjalanan saya ke Bromo. Dan kira-kira seperti inilah itinerary-nya :

Jumat, 15 Juni 2016

23.30                     : Start penjemputan peserta sesuai kesepakatan (meeting point)

Sabtu, 16 Juni 2016

00.00                     : Perjalanan Menuju Bromo

02.30                     : Sampai di Park Area (Wonokitri Parking Area)

03.00                     : Menuju ke Penanjakan 1 Spot Golden Sunrise

04.00                     : Coffe Morning

05.00                     : Enjoy sunrise Bromo

06.00                     : Perjalanan menuju Lautan Pasir

06.30                     : Menuju Spot foto di Blok Widodaren

07.00                     : Explore Spot Kawah Bromo dan Pura Luhur Poten

08.30                     : Spot di Pasir Berbisik

09.00                     : Spot di Savana Bukit Teletubbies

10.30                     : Kembali ke Wonokitri Parking Area

11.30                     : Bersih diri, Makan Pagi

13.30                     : Diperkirakan tiba di Meeting Point

Melihat itinerary itu membuat saya ingin segera terbang pulang ke Jakarta hari Sabtu itu juga. Setelah saya cek, ternyata penerbangan paling sore (atau bisa dibilang terakhir) dari Malang menuju Jakarta adalah pukul 15.00. Saya sedikit was-was apakah saya bisa mencapai Bandara Abdul Rahman Saleh tepat waktu. Saya menghubungi pihak Jagad Tour untuk meminta bantuan agar sepulang dari Bromo pihak Jagad Tour langsung mengantar saya menuju Bandara Abdul Rahman Saleh. Saya juga sekaligus meminta tolong agar Pihak Jagad Tour bisa menjemput saya dan temen saya ke tempat kami menginap, sehingga kami tidak perlu datang ke meeting point. Pihak Jagad Tour menghubungi driver mereka dan menyetujui permintaan saya. Mereka menyanggupi bahwa saya bisa tiba di Bandara Abdul Rahman Saleh tepat waktu dan tidak ketinggalan flight. Meskipun ada charge tambahan Rp 25.000 per orang. Tapi itu tak masalah dibandingkan kerepotan yang sirna karenanya.

Jumat sekitar pukul 19.00, handphone-ku berdering. Ternyata telepon dari Bapak Sopir yang mengantarkan kami, ia menanyakan detail alamat tempat kami menginap. Saya pun kembali menanyakan apakah kami benar-benar bisa tiba tepat waktu di Bandara Abdul Rahman Saleh karena kami memilih penerbangan MLG-HLP pukul 14.30 sehingga maksimal kami tiba di Bandara adalah pukul 13.30. Bapak Sopir yang bernama Eko tersebut menyanggupi dengan ketentuan kita harus segera meninggalkan Wonokitri Parking Area maksimal pukul 11.00. Pak Eko juga menginformasikan bahwa disana yang ada hanya warung kopi jika waktu sahur, sehingga jika ada dari kami yang ingin puasa lebih baik membawa bekal makanan sendiri. Kecuali kalau kuat sahur dengan indomie. Pak Eko juga menginformasikan bahwa beliau akan menjemput kami pada hari Sabtu pukul 01.00 agar tidak terlalu lama menunggu waktu sunset disana.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, saya dan partner saya buru-buru delivery makanan yang mengandung nasi, mudah dimakan tanpa mengotori tangan, dan masih enak jika dimakan sahur esok hari. Kemudian, kami beristirahat.

Sekitar pukul 01.00 dini hari, Pak Eko tiba di tempat kami menginap. Mobil yang dibawa adalah avanza dengan dua orang peserta yang sudah ready di dalam mobil. Kami memasukkan koper kami ke dalam bagasi mobil dan ternyata sudah ada koper lain di sana. Rupanya, dua orang peserta lain tersebut juga langsung menuju ke Bandara Abdul Rahman Saleh usai trip ke Bromo untuk mengejar penerbangan MLG-CGK pukul 15.00. Saya semakin yakin bahwa kami benar-benar bisa mengejar penerbangan kami karena dua peserta yang lain juga satu arah dan satu tujuan. Paling tidak kalau telat pun ada temen untuk sama-sama dongkol. Bukankah dongkol berjamaah lebih baik daripada dongkol sendiri?

 

WONOKITRI PARKING AREA

Perjalanan yang lika-liku nan panjang kami tempuh selama kurang lebih dua jam. Saya yang duduk di bangku paling belakang untungnya sedang dalam kondisi fit dan mengantuk sehingga saya hanya tidur sepanjang perjalanan tanpa merasakan mual. Sayangnya, partner saya yang duduk di depan malah tidak bisa tidur dan kondisi badannya tidak fit sehingga ia muntah di kamar mandi begitu kami tiba di Wonokitri Parking Area.

Di Wonokitri Parking Area banyak yang menawarkan shawl, topi rajut, sarung tangan dan persewaan jaket. Saya dan partner saya yang memang tanpa persiapan dari awal berencana menyewa jaket dan membeli sarung tangan. Kebetulan saya sudah membawa infinity shawl dan sudah memakai wool sweater SPAO yang edisi winter jadi sudah cukup tebal dan hangat. Tetapi tetap saja kurang untuk menahan angin dingin yang berhembus di pegununungan ini. Saya dan partner memilih-milih jaket di persewaan jaket yang ada di depan kamar mandi Wonokitri Parking Area. Harga sewa jaketnya cukup murah Rp 25.000/pcs. Beliau juga menjual sarung tangan, meski bukan wool tapi lumayan untuk menjaga tangan tetap hangat. Harganya pun murah Rp 5.000/ pasang.

Kami kemudian diantar menuju Penanjakan 1 Spot Golden Sunrise dengan menggunakan Jeep 4×4 berwarna kuning menyala. Kami diminta menghafalkan nomor yang tertera pada Jeep untuk memudahkan kami mencari jeep kami nantinya. Pak Eko tidak lagi menjadi sopir kami kali ini, penduduk lokal yang kami lupa tanyakan namanya mengantarkan kami untuk mengenal pegunungan tengger ini lebih jauh.

 

PENANJAKAN 1 SPOT GOLDEN SUNRISE

Perjalanan dari Wonokitri Parking Area menuju Penanjakan 1 Spot Golden Sunrise memakan waktu kurang lebih lima belas menit dengan jalan yang penuh likunya. Setibanya di sana ternyata suasananya sudah sangat ramai. Oh ya, di sana ada warung kopi, penyewaan jaket, penjual bunga edelweiss yang dirangkai dan lain-lain saya tidak begitu memperhatikan karena remang-remang. Usai berjalan kaki keramaian warung kopi dan teman-temannya itu, jalan yang membentang adalah sangat gelap, tiada cahaya, dan parahnya kami berempat tidak membawa senter. Yah sudah, kami menyusuri jalan pelan-pelan sambil mengekor kepada abang-abang penjual edelweiss yang akan naik juga ke spot sunrise dengan senternya yang lumayan membantu. Dan ternyata, spot penanjakan untuk sunrise itu tidak seberapa tinggi saudara-saudara. Tahu begini lebih baik kami ke warung kopi dulu sambil makan bekal makanan yang kami bawa sekaligus menghangatkan diri. Tapi ya sudah, sudah malas turun lagi juga. Kami memilih tempat duduk dan memakan bekal kami yang bawa. Ceritanya supaya lebih ringan barang bawaan kami. Karena sepertinya perjalanan kami menyusuri pegunungan tengger ini masih panjang.

Usai makan, kami menunggu sunrise. Ternyata semakin lama semakin banyak orang berdatangan, bisa dibilang ramai untuk ukuran low season. Meski mayoritas pengunjungnya adalah turis asing. Semua orang sibuk mengabadikan sunrise.

Menanti sunrise bromo

Kumpulan orang yang mendamba Sang Surya sibuk mengabadikan moment. Sedang saya sibuk mengabadikan mereka, haha

 

Perlahan namun pasti Sang Surya mulai keluar dari persembunyiannya.

Perlahan namun pasti Sang Surya mulai keluar dari persembunyiannya.

 

Pemandangan lain yang dapat dilihat dari Spot Sunris. Low Season tapi tetap ramai...

Pemandangan lain yang dapat dilihat dari Spot Sunrise. Low Season tapi tetap ramai…

Saking ramainya di Spot Sunrise, kami sulit mengabadikan momen itu dengan narsisme yang sudah membumbung dalam jiwa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisinya jika saja ini bukan Bulan Ramadhan dan Low Season.

Yah sudahlah, kami memutuskan untuk turun. Dan ternyata saudara-saudara, pemandangan di jalanan menuruni Spot Sunrise itu sangat keren. Kemilau sinar matahari yang menerpa dedaunan membuat jalanan yang kami lalui seperti saat autumn dan berada di mancanegara.

Memang benar kata pepatah, “Jangan terlalu fokus terhadap hal yang keren sehingga kita melupakan hal lain yang ternyata lebih keren”.

Autumn in Bromo, Romantis ya...

Autumn in Bromo, Romantis ya…

 

Autumn in Bromo (2)

Keren juga kan jalan penanjakan Spot Sunrise ini. Berasa Super Early Autumn in June…

 

Salah satu pemandangan di sisi jalan penanjakan ke Sunrise Spot

Salah satu pemandangan di sisi jalan penanjakan ke Spot Sunrise

 

Setelah turun dari spot penanjakan, kami langsung mencari Jeep 4×4 kami berwarna kuning cetar dengan nomor 185. Driver langsung mengantar kami menuju Lautan Pasir yang syahdu. Ditengah perjalanan, Driver yang sangat pendiam menghentikan Jeep di suatu Spot yang saya tak tahu namanya dan menyarankan kami untuk berfoto di sana.

Memandang Gunung Batok nan Artistik dari ketinggian

Memandang Gunung Batok nan Artistik dari ketinggian

Setelah puas memandangi betapa indahnya karya Tuhan Semesta Alam dari ketinggian, kami meneruskan perjalanan ke Lautan Pasir. Kami beruntung Lautan Pasir yang kami lalui tidak terlalu berdebu karena hujan yang terjadi kemarin sore. Dan yang membuat kami lebih beruntung hari ini adalah cerahnya suasana tanpa mega mendung yang menyapa selama perjalanan. Sepertinya semesta merestui perjalanan kami, meskipun kami melakukan trip ini secara dadakan.

 

BLOK SAVANA DAN LEBIH DEKAT DENGAN BUKIT TELETUBBIES

Kami menuruni jalanan berliku nan curam untuk menuju Lautan Pasir. Sesampainya di Lautan Pasir, Driver memberitahu bahwa kami akan diantar menuju Blok Savana Bukit Teletubbies terlebih dahulu karena letaknya yang paling jauh dan pasti lebih sepi jika kita menuju kesana sekarang. Jadi itinerary nya dibalik dari itinerary awal. Tapi yah sudah, kami manut saja. Pokokmen piknik jalan terus.

Dan setelah perjalanan panjang membelah lautan pasir, kami akhirnya sampai di Blok Savana. Di sana ada beberapa warung kopi dan indomie dengan tenda-tenda sederhana dan ada juga orang-orang yang menawarkan jasa kuda untuk ke Bukit Teletubbies. Kami pun langsung sibuk berfoto-foto di Blok Savana nan keren.

Mengeluarkan narsisme yang menggelora di Blok Savana

Mengeluarkan narsisme yang menggelora di Blok Savana

Sinar matahari cukup menyengat pagi itu, tetapi udara masih saja dingin membuat kami maju mundur mau lepas jaket. Tetapi yang pasti, karena cuaca dan semangat yang mendukung, kami merasa sangat mampu mencapai Bukit Teletubbies tanpa bantuan kuda. Jadi kami memutuskan berjalan menembus ilalang menuju Bukit Teletubbies.

Berusaha menyusuri jalan menuju Bukit Teletubbies

Berusaha menyusuri jalan menuju Bukit Teletubbies

Tapi ternyata Bukit Teletubbies masih jauh dari pandangan mata. Menimbang bahwa kami masih harus berjalan mendaki dan menaiki tangga menuju Kawah Bromo, kami memutuskan kembali menuju Jeep untuk meneruskan perjalanan. Sayang sekali, kami gagal menjadi anak gahul instagram yang berhasil foto di Bukit Teletubbies yang instagramable banget itu.
Tapi setidaknya kami sudah selangkah lebih dekat dengan Bukit Teletubbies.

 

Menyerah, Balik Kanan Maju Jalan...

Menyerah, Balik Kanan Maju Jalan…

Eh, pas balik ternyata Driver nya lagi gak tahu kemana. Jadi sambil menunggu kami mengekspresikan narsisme yang menggelora dalam jiwa. Supaya gak edan, kita lepaskan semua…

Lost In Bromo...

Lost In Bromo…

 

PASIR BERBISIK

Setelah menemukan sang Driver, kami langsung bergerak menuju spot kece selanjutnya : Pasir Berbisik. Ada apa di tempat ini? Yang jelas pasir dan ketandusan. Tetapi untungnya tiada debu berarti yang menerpa kami. Sehingga, tanpa masker pun tiada masalah.

Ngapain kami? Yang jelas foto-foto.

Bentangan pasir yang hobi berbisik-bisik diterpa angin...

Bentangan pasir yang hobi berbisik-bisik diterpa angin…

 

Nongkrong bersama Jeep kuning nan cetar membahana yang setia menemani kami...

Nongkrong bersama Jeep kuning nan cetar membahana yang setia menemani kami…

 

AREA KAWAH BROMO DAN PURA LUHUR POTEN

Usai berbisik-bisik dengan pasir, kami langsung ngebut ke Kawah Bromo. Saat jeep akan memarkirkan diri, empat orang berkuda mengikuti jeep kami untuk menawarkan jasa kuda dari area parkir jeep sampai ke anak tangga Kawah Bromo. Tarif naik kuda yang ditawarkan Rp 125.000-Rp 150.000 pulang pergi parkir jeep – anak tangga – parkir jeep. Lumayan juga ya. Namun karena merasa sudah saving energy dari kegagalan menjamah Bukit Teletubbies, akhirnya kami memutuskan jalan saja diikuti empat orang dengan kudanya yang masih pantang menyerah dan putus asa dalam menawarkan jasanya. Kehadiran mereka ibarat hadirnya air es ditengah gurun pasir saat puasa : menggoda kita untuk menyerah dalam berjalan.

 

Berusaha tersenyum meski terik matahari menampar wajah ini...

Berusaha tersenyum meski terik matahari menampar wajah ini…

 

Terus berusaha berjalan menuju Kawah Bromo, meski akhirnya menyerah dan naik kuda

Terus berusaha berjalan menuju Kawah Bromo, meski akhirnya menyerah dan naik kuda

Ketegaran palsu kami dalam berjalan kaki akhirnya menemui titik akhirnya ketika empat abang-abang beserta kudanya yang mengikuti kami mengobral tarifnya menjadi Rp 50.000 dari tempat kami berdiri (setengah perjalanan menuju anak tangga) – anak tangga – parkir jeep. Kami berempat kompak tergoda dan akhirnya menaiki kuda dengan sok kalemnya. Di sepanjang perjalanan menuju anak tangga si abang yang memandu kuda curhat jika tarif yang diberikan kepada kami adalah tarif obral dan kebetulan Kawah Bromo sedang tidak seramai biasanya. Saya jadi merasa beruntung.

Setelah sampai di anak tangga menuju kawah, ternyata dahaga kami yang sebelumnya belum pula sirna. Sehingga kami harus sering-sering berhenti untuk beristirahat. Kami sungguh lemah. Kami berusaha menyusun semangat yang tersisa mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi yang membuat kami harus segera cepat sampai puncak agar cepat turun pula. Agar semuanya berjalan sesuai rencana : meninggalkan Wonokitri Parking Area maksimal pukul 11.00.

Dan akhirnya…

 

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Kuasa, akhirnya kami sampai di Puncak Kawah Bromo...

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Kuasa, akhirnya kami sampai di Puncak Kawah Bromo…

 

Asap yang keluar dari Kawah Bromo membumbung di angkasa

Asap yang keluar dari Kawah Bromo membumbung di angkasa

Kami sebenernya keder di atas sana karena pasir disekitar kawah dan tangga yang paling atas cukup licin. Tetapi demi keabadian moment dalam gambar, kami berusaha menghilangkan ketakutan itu. Bahkan ada yang sempet selfie untuk Self Celebration.

Doing Self Celebration di atas Kawah Bromo, sayang tanpa tongsis...

Doing Self Celebration di atas Kawah Bromo, sayang tanpa tongsis…

Setelah menormalkan nafas dan sedikit berfoto-foto, kami kembali menuruni anak tangga dan menemui kuda yang kami sewa untuk kembali ke Jeep Kuning yang kami tumpangi. Saking lemahnya kami, bahkan saat naik kuda pun kami masih cukup dahaga sehingga tidak sempat berfoto dengan kuda. Foto sama kuda itu cukup penting sebenernya untuk mengungkapkan rasa terima kasih kami kepada Sang Kuda yang telah mengantar kami dengan sepenuh jiwa dan raga serta mengabaikan dahaganya sendiri. Oh ya ada lagi, kami juga lupa foto di depan Pura Luhur Poten yang sangat artistik itu. Padahal letaknya tidak jauh dari tempat parkir Jeep Kami. Tapi ya sudahlah…

Area Kawah Bromo dan Pura Luhur Poten inilah spot kece terakhir yang kami kunjungi dalam rangkaian perjalanan kami menyusuri Bromo.

Jam di tangan menunjukkan pukul 10.00 saat kami tiba di Wonokitri Parking Area. Pak Eko menemui kami dan memberi kami waktu untuk bersih-bersih badan. Ia juga menyiapkan makan bagi kami yang tidak berpuasa. Makanannya cukup enak dan fresh berupa nasi hangat, sayur hangat dan lauk-lauk yang juga masih hangat. Namun begitu kami duduk dan makan selama 10 menit, semua makanan itu berubah jadi dingin. Walaupun sudah siang dan terik, suhu di sini masih cukup dingin. Apalagi jika ada angin yang berhembus dan menerpa badan ini, rasanya bikin merinding. Dingin.

Usai makan, sekitar pukul 10.30, kami meninggalkan Wonokitri Parking Area untuk menuju Bandara Abdul Rahman Saleh. Puji syukur semuanya tepat waktu. Kami langsung masuk ke Terminal Keberangkatan Bandara Abdul Rahman Saleh untuk check in dan segera duduk di Gate. Dan saat kami boarding, hujan turun rintik-rintik dan syahdu.

Sayonara Malang, Sayonara East Java...

Sayonara Malang, Sayonara East Java…

Demikian perjalanan piknik hati saya kali ini. Cukup menyembuhkan gejala kurang piknik saya, salah satunya saya menjadi tidak mudah marah lagi dan penuh senyum dan semangat sepanjang hari.

Memang ada beberapa hal yang saya sesalkan selama Trip ini berlangsung :

  1. Kami lupa membawa tongsis
  2. Lupa Foto sama Kuda dan Pura Luhur Poten
  3. Driver Jeep sepanjang perjalanan diam saja dan tidak menerangkan tempat yang kami tuju jika tidak ditanya. Padahal jika saja beliau lebih komunikatif mungkin bisa meningkatkan kepuasan kami atas jasa yang beliau berikan. Dan seringkali dalam perjalanan seperti ini tingkat kepuasan berbanding lurus dengan tips yang diberikan. Meskipun Driver maupun penyedia jasa lainnya tidak boleh mengharapkan uang tips, tetapi uang tips dan ucapan terima kasih adalah ukuran nyata kepuasan pelanggan.

TOTAL BIAYA TRIP KE BROMO

Totel Biaya Trip Ke Bromo

Total biaya trip ke Bromo per orang, murah kan?

 

 

Overall trip kali ini menyenangkan.

 

Salam,

Dilbar Sarasvati

(Visited 12,300 times, 33 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

3 Comments

Yudha

Bagus mbak review Trip.nya..
kapan kapan main Ke B29 mbak.. Negeri Di atas awan, nggak kalah bagus lohh mbak…

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *