Sore itu saat kau bertemu denganku di kedai kopi...

Sore itu saat kau bertemu denganku di kedai kopi…

Kau mengajakku bertemu di kedai kopi sore itu. Kita berdua duduk di dekat jendela. Kopiku, juga tehmu mengepulkan asapnya membumbung di udara. Menggelora.

Kau hanya terdiam memandangi kopiku dengan segurat rasa kecewa. Aku tahu kau heran, mengapa aku masih meminum bubuk-bubuk surgawi itu meski entah sudah berapa kali kau menasehatiku.

Aku juga tahu kau sudah lelah. Lelah untuk membeberkan kembali sejumlah alasan yang pasti mengapa aku harus mengurangi canduku akan kopi. Kau lelah. Dan kau hanya memandangi kopiku dalam bisu.

Sedang aku tak kalah bisunya sembari memandangmu. Lekat.

“Apakah Tuhan kita masih sama?”, tanyamu memecah kebisuan yang membungkamku, juga suasana sore itu.

Ah, mengapa kau tidak basa-basi terlebih dahulu. Bukankah sudah lebih dari satu warsa kita tak berjumpa? Kau seharusnya tahu bagaimana cara mengemas obrolan tidak santai kita kali ini.

Aku menghela nafas. Pandanganmu masih lekat pada kopiku dan semburat asap yang dikepulkannya. Kau takut memandangku. Aku pun terkekeh kecil dan memandangmu dengan sama lekatnya.

“Apa kamu pikir sekarang aku menyembah Tuhan yang berbeda?”.

Kau mengalihkan pandanganmu ke arahku, perlahan, tajam.

“Sepertinya”, jawabmu singkat.

Lalu kau pun mengalihkan pandanganmu mataku.

 

Ingatanku terlempar saat tiga tahun yang lalu. Saat aku, juga dirimu, tidak pernah merasa tidak ada yang tidak cocok diantara kita.

Kita merencanakan sesuatu bersama. Membicarakan hal yang kurang lebih sama. Dan tertawa dengan cara dan akan hal yang sama.

 

Hingga tiba kala aku menyadari bahwa ada hal yang tidak sama diantara kita berdua.

Suatu hari kau bercerita padaku bagaimana kau telah memarahi nenekmu karena ia menyimpan sebuah jimat dibawah bantal tidurnya. Kejawen itu musyrik, katamu. Saat itu pula aku merasa ada yang aneh pada diriku.

Tiba-tiba saja jiwaku menebas ruang dan waktu. Aku pun menjelma menjadi nenekmu yang kau marahi waktu itu. Ya, aku adalah nenekmu, nenekmu adalah aku.

Aku menjadi tahu bagaimana kau memarahi nenekmu kala itu. Tentang kebaya berwarna wulung yang selalu dipakainya yang menurutmu menyeramkan. Tentang bunga, kemenyan dan caranya sembahyang. Tentang hidup yang cuma sekali dan ancaman neraka yang membelitnya. Tentang keunggulan Tuhanmu, juga agamamu yang mampu menyelamatkan manusia menuju surga.

Saat itu, aku ingin sekali menjelaskan padamu. Menjelaskan apa yang dipikirkan nenekmu dalam diam saat kau mencecarnya dengan dengan berbagai kata.

Aku ingin menjelaskan padamu tentang baju wulung yang katamu menyeramkan. Aku ingin menjelaskan mengapa orang Jawa, baik yang terduga kejawen maupun tidak, selalu memakai warna wulung saat berpakaian. Memang wulung itu hitam, sedang hitam adalah gelap. Dan bagi dunia pada umumnya adalah lambang kegelapan dan pemuja kegelapan itu.

Orang jawa : pakaian wulung, bunga, kemenyan dan sesaji

Orang jawa : pakaian wulung, bunga, kemenyan, sesaji dan kepasrahan

Namun dunia spiritual orang Jawa berbeda dalam memandang wulung alias hitam.

Wulung adalah lambang kejujuran. Tentang sang diri yang memang tidak suci. Juga tentang cela yang menyelimutinya.

Tentang kepasrahan. Pasrah tetapi tidak menyerah.

Tentang pengakuan tanpa syarat. Ya, bukankah kita mengakui adanya cahaya karena adanya kegelapan?

Aku juga ingin menjelaskan padamu tentang bunga, kemenyan dan cara nenekmu sembah Hyang yang kamu anggap tidak wajar.

Nenekmu memang tidak pernah bersembah Hyang seperti yang kau lakukan. Nenekmu adalah orang Jawa, sedang Jawa artinya Jaba (Luar). Namun ia lebih sering bersembahyang ke dalam. Dalam ketenangan jiwanya, setiap laku adalah sembah Hyang.

Terkadang ia bersembah Hyang juga ke luar. Lewat wewangian dari kemenyan, lewat keindahan dari bunga, lewat kesegaran dari air, dan lewat pengorbanan dari sesajen.

Dengan caranya ia menyembah Tuhan, Sang Hyang. Tuhan yang sebenarnya tak berbeda dengan Tuhanmu. Namun kamu belum tahu. Belum, bukan tidak.

Lalu aku ingin menghilangkan kegentaranmu. Kegentaran akan hidup yang hanya sekali dan kemungkinan kecil kau akan bersatu kembali dengan nenekmu dalam abadinya surgawi.

Nenekmu tak pernah menganggap hidup adalah sebuah garis linier yang berawal dan berakhir. Baginya, hidup itu seperti Cakra Manggilingan. Tak ada yang benar-benar menjadi awal dan tak ada yang benar-benar menjadi akhir. Awal dari satu fase merupakan akhir dari fase lainnya. Dan akhir suatu fase adalah awal dari fase lainnya.

Hidup dan Ketidakhidupan bagikan Cakra Manggilingan

Kehidupan dan Ketidakhidupan silih berganti bagaikan Cakra Manggilingan

Nenekmu juga tak pernah tergiur dengan surga yang kau umbar. Surga dengan susu yang mengalir pada setiap sungainya. Surga yang penuh dengan makhluk-makhluk suci yang rupawan. Surga yang menjanjikan kebahagiaan yang abadi.

Baginya, kebahagiaan sejati adalah sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti.

Begitulah pandangan nenekmu yang adalah aku dan aku adalah nenekmu.

Waktu berlalu. Dalam kebisuan, aku menyeruput kopiku yang sudah dingin itu.

Sekarang maupun tiga tahun lalu, pemahamanmu masih sama. Aku tidak akan memaksamu untuk memahami bagaimana aku (juga nenekmu) memandang hidup dan ketidakhidupan pararel ini. Aku juga tidak ingin memaksamu untuk paham dan menerima bahwa Tuhanku, Tuhan nenekmu, juga Tuhanmu adalah Tuhan yang sama.

“Mungkin cara kita menyembah Tuhan tak lagi sama. Tapi aku yakin suatu saat kau akan menyadari bahwa kita tidak pernah menyembah Tuhan yang berbeda. Dahulu maupun sekarang, Tuhanku adalah Tuhanmu dan Tuhanmu adalah Tuhanku. Masih sama, selalu sama dan akan terus sama.”

Kau hanya diam. Memandang ke luar jendela yang mulai basah akan rintik hujan senja itu.

“Mungkin.”, katamu datar sambil menyeruput tehmu yang aku yakin sudah dingin.

Senja itu kita mengakhiri percakapan kita tanpa kata yang lainnya. Tapi setidaknya aku menjadi tahu bahwa aku masih harus menunggu untuk bisa bersamamu.

Menunggu sampai tidak ada lagi hal yang tidak sama diantara kita berdua secara sempurna.

Menunggu meski dalam waktu lama melewati tumimbal lahir yang entah keberapa.

Aku akan menunggumu, selalu.

 

Jakarta, 24 Juni 2016

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

 

(Visited 255 times, 1 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *