Suatu hari, ada seorang kawan berkeluh kesah tentang penghasilannya yang tidak “nyantol” sama sekali sebagai harta bergerak maupun tidak bergerak. Padahal, kawan-kawan lain yang notabene pekerjaannya sama, level jabatannya sama dan penghasilannya sama sudah bisa membeli berupa-rupa harta tadi atau minimal mempundikan uangnya dalam suatu investasi/ tabungan.

Sesungguhnya, keluh kesah yang dipaparkan kawan saya itu sangat wajar. Apalagi ia sudah bekerja dengan gaji yang sangat layak, tentu rasanya ingin mempunyai sandhang, pangan dan papan yang layak pula dengan status “milik dan dibiayai sendiri”. Tapi apalah daya, sebagai anak pertama dari keluarganya, ia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab kepada keluarga yang lebih besar. Melihat teman-teman lainnya yang bisa mengelola uangnya sebagai harta dan investasi, bukan untuk membayar kewajiban dan tanggung jawab, tentulah hal itu menimbulkan iren-irenan (iri-irian) dalam hati.

Sebagai makhluk yang tidak terlalu suci, saya menganggap rasa iri yang muncul itu adalah wajar. Yang perlu kita lakukan adalah mengelola rasa iri tersebut menjadi energi yang positif : motivasi diri. Tidak ada orang yang lahir tanpa masalah di dunia ini. Tidak ada. Apa yang nampak dari teman-teman kita dalam pergaulan sesungguhnya hanyalah tampaknya. Itu bukan yang sesungguhnya. Setiap orang memilih topeng yang berbeda dalam menghadapi suatu lingkup pergaulan. Ada yang memakai topeng terbahagia, tersanjung, tertawa, terluka, tersiksa, terlalu, dan terserahlah apa saja.

Setiap hari kita memakai topeng yang berbeda, disadari atau tidak. Kita pun pernah memakai topeng terbahagia. Tetapi anehnya, saat kita melihat orang lain terlalu sering memakai topeng terbahagia timbullah pertanyaan dan pernyataan di benak kita : “Apakah dia sungguh-sungguh bahagia? Ah, sepertinya dia memang benar-benar bahagia.”.  Oh ya, ada tambahannya : “Tidak seperti aku.”.

Itulah rasa iri yang timbul. Tapi itu sungguh wajar, karena kita hanya manusia. Jika kita tak pernah merasa iri, mungkin kita sudah sangat layak diangkat menjadi malaikat.

Choose your mask, wisely

Choose your mask, carefully

Tapi ingatlah selalu kawan akan pepatah kuno leluhur kita dari tanah Jawa : ‘Urip iku mung sawang sinawang‘. Artinya, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat. Karena melihat dan kita sadar bahwa kita juga dilihat, timbullah perbandingan tentang apa yang terlihat. Itulah sebabnya leluhur kita mengingatkan melalui pepatah kuno tersebut yang disebarkan secara tutur tinular lintas generasi dan lintas kota (bahkan provinsi). Karena penyebarannya secara tutur tinular itu, membuat penyampaian pepatah kuno tersebut menjadi terpotong-potong hingga yang abadi sampai sekarang hanya ‘Urip iku mung sawang sinawang‘. Padahal, pepatah tersebut dari penutur awalnya aslinya berbunyi : ‘Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang.’. Artinya, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Jadi, jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat.

 

Rumput tetangga memang selalu dan akan terlihat lebih hijau...

Rumput tetangga memang selalu dan akan terlihat lebih hijau…

Ingat juga selalu pepatah : ‘Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau’. Itu memang selalu seperti itu. Dulu, saya selalu berpikir bahwa ‘Rumput tetangga memang lebih hijau dari punya saya.’. Itu dulu, saat saya mengenal sebuah keluarga yang sangat bahagia dan sempurna di mata saya. Sampai suatu saat, saya tidak sengaja menyaksikan perselingkuhan ayah dari keluarga tersebut di sebuah Mall. Tapi saya hanya diam. Saat saya berjumpa lagi dengan keluarga itu, semuanya masih tampak bahagia dan sempurna seperti sebelumnya. Jadi, hijaunya rumput tetangga itu jangan diirikan, kawan. Kita tidak tahu apakah itu rumput beneran atau hanya rumput-rumputan.

Tapi, kita juga tidak boleh bersikap skeptis akan keaslian rumput tetangga. Kita harus tetap menghargainya. Jadi kawan, kita semua berhak lho berbahagia dan terlihat berbahagia. Kita berhak mempunyai rumput yang hijau royo-royo. Asal kita mau mau berusaha.

Rumput kita juga bisa lebih hijau, asal kita berusaha...

Rumput kita juga bisa lebih hijau, asal kita berusaha…

 

Dan semua itu, hanya butuh waktu. Jadi, tetaplah berusaha bahagia, karena menjadi benar-benar bahagia adalah hak kita. Tenang saja, suatu saat rumput kita pun pasti akan terlihat lebih hijau, meski cuma kata tetangga.

Rahayu,

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

(Visited 45,447 times, 47 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

4 Comments

joeheadshot

ini pas banget bacanya, saat saya sedang sharing tentang kerjaan yah.
bolehkah saya menulis ulang dengan sedikit perubahan kisanak?

Reply
Toto Prayogo

owh gt ta … 😀
bagus nih artikel nya ..

bacaan pertama pagi ini,
Rabu 14 desember 2016 …
Semoga msh ada artikel lain yang bikin termotivasi.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *