Lagu Gambang Suling cukup populer dalam masyarakat Nusantara. Dari jaman kita Sekolah Dasar, lagu ini diperkenalkan sebagai lagu daerah asal Jawa Tengah. Lagu ini singkat dengan lirik yang mudah dihafal, meski untuk menyanyikannya dengan nada yang benar cukup sulit. Tapi perpaduan antara kemudahan lirik dan kecukupsulitan dari nada, membuat lagu Gambang Suling ini populer di kalangan masyarakat.  Bahkan, di kalangan murid SD sekalipun.

Lirik :
Gambang suling ngumandang swarane
Gambang suling berkumandang swaranya
Tulat-tulit kepenak unine
Tulat-tulit enak bunyinya
U… nine mung nrenyuh ake
Bunyinya hanya mengharukan
Bareng lan kentrung
Bersama kentrung
Ketipung suling sigrak kendhangane
Ketipung suling mantap bunyi kendangnya

Bagi masyarakat umum, lirik diatas adalah lirik yang benar dan populer. Bahkan, saking terhipnotis dengan lika-liku nadanya, mereka lupa akan adanya lirik yang aneh dalam lagu ini :

Gambang suling kumandang swarane

Tulat-tulit kepenak unine…

Yes, suling memang bunyinya ‘tulat-tulit’, tapi apakah gambang itu bunyinya juga ‘tulat-tulit’ ?

 

Mengenal Kembali Instrumen Gamelan

SULING

index

Suling merupakan instrumen gamelan yang berfungsi sebagai pangrengga lagu. Instrumen ini terbuat dari bambu wuluh atau paralon yang diberi lubang sebagai penentu nada atau laras. Pada salah satu ujungnya yaitu bagian yang di tiup yang melekat di bibir diberi lapisan tutup dinamakan jamangan yang berfungsi untuk mengalirkan udara sehingga menimbulkan getaran udara yang menimbulkan bunyi atau suara. Adapun teknik membunyikannya dengan cara di tiup. Di dalam tradisi karawitan, suling ada dua jenis, yaitu bentuk suling yang berlaras Slendro memiliki lubang empat yang hampir sama jaraknya, sedangkan yang berlaras Pelog dengan lubang lima dengan jarak yang berbeda. Ada pula suling dengan lubang berjumlah enam yang bisa digunakan untuk laras Pelog dan Slendro. Untuk suling laras Slendro dalam karawitan Jawatimuran apabila empat lubang di tutup semua dan di tiup dengan tekanan sedang nada yang dihasilkan adalah laras lu (3), sedangkan pada karawitan Jawatengahan lazim dengan laras ro (2). Jadi, instrumen inilah yang menimbulkan bunyi tulat-tulit seperti dalam lirik lagu Gambang Suling (atau Swara Suling) yang sedang kita bahas ini.

 

GAMBANG

National_Museum_of_Ethnology_Osaka_-_Gambang
Instrumen dibuat dari bilah – bilah kayu dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator. Berbilah tujuh-belas sampai dua-puluh bilah, wilayah gambang mencakup dua oktaf atau lebih. Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan tangkai panjang biasanya dari tanduk/sungu.Kebanyakan gambang memainkan gembyangan (oktaf) dalam gaya pola pola lagu dengan ketukan ajeg.
Gambang juga dapat memainkan beberapa macam ornamentasi lagu dan ritme, seperti permainan dua nada dipisahkan oleh dua bilah, atau permainan dua nada dipisahkan oleh enam bilah, dan pola lagu dengan ritme – ritme sinkopasi. Instrumen ini tidak menimbulkan bunyi tulat-tulit seperti suling. Tapi itu bukanlah semata-mata alasan mengapa bunyi khas dari instrumen ini tidak dimasukkan dalam lirik lagu Gambang Suling (atau Swara Suling) yang sedang kita bahas ini.

 

Mengenal Ulang Lagu Gambang Suling atau Swara Suling

Lagu Swara Suling awalnya diciptakan dalam bentuk Lancaran. Lancaran Swara Suling tersebut merupakan salah satu lagu karawitan jawa yang populer dari era tahun 1953-an yang diciptakan oleh Ki Narto Sabdo dengan Laras Pelog Pathet Nem.
Lagu Swara Suling awalnya tercipta dari pengalaman remaja Ki Narto Sabdo. Saat remaja, Ki Narto Sabdo pernah mengalami kegalauan mendalam seperti anak muda masa kini. Penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah kisah kasihnya pada seorang gadis yang tak sampai. Suatu malam saat beliau merenung, beliau mendengar alunan suara suling (tanpa gambang, ya) yang dimainkan oleh seorang tuna wisma. Alunan suling tersebut melantunkan lagu Nippon/ Jepang yang berjudul Miyoto. Syahdunya suara suling dan lagu Miyoto yang terasa ‘gue banget’ bagi Ki Narto Sabdo saat itu, membuat Ki Narto Sabdo terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu berjudul “Swara Suling”. Lagu tersebut mulai dikenal dan banyak digemari setelah disajikan dalam pertunjukan Wayang Orang Ngesti Pandhawa Semarang.

Cakepan Lancaran Swara Suling Pelog Pathet Nem yang benar adalah sebagai berikut :
Swara suling kumandang swarane,
Suara suling berkumandang suaranya
Tulat tulit kepenak unine,
Tulat tulit enak bunyinya
Uuuuu-nine,
Bunyinya
Mung, nrenyuhake bareng lan kentrung,
Hanya mengharukan, bersama kentrung
Ketipung suling sigrak kendhangane.
Ketipung suling mantab bunyi kendangnya
Jadi, Ki Narto Sabdo menghargai indahnya suara suling yang (mungkin sedikit) menghapuskan laraning lara karena nandhang wuyung dalam lagu tersebut. Dalam aransemennya, Ki Narto Sabdo tergugah pula untuk menghibur diri dengan mengubah kesedihan menjadi sesuatu kegembiraan atau suasana semangat. Sehingga, lagu swara suling ini tercipta dengan versi dangdutan karakter yang semangat (sigrak) yang khas pada kendhangannya.
Gimana sih Swara Suling dalam versi aslinya, yakni Lancaran Swara Suling Pelog Pathet Nem? Nah, di youtube ada nih. Lancaran Swara Suling Pl.6 ini dibawakan oleh Karawitan Tjondong Raos.

Terdengar suara kendhang yang semangat (sigrak) yang mendominasi lagu ini. Meski lirik dan latar belakang lagu ini sesungguhnya duka, tetapi Ki Narto Sabdo membungkusnya dalam musik yang penuh suka. Karena suka duka memang sesungguhnya sama, bukan?

Jujur saja, saya tidak tahu siapa, apa,  dimana, mengapa dan bagaimana ceritanya sehingga lagu yang berjudul Swara Suling ini bisa populer menjadi lagu Gambang Suling. Saya gagal paham. Ada missing link di sana.

Tapi tak mengapa, yang penting kita mau terus menggali seni dan budaya kita. Kalaupun ada kesalahan yang terlanjur, ya sudah. Kita coba ajurkan terlanjur tersebut perlahan-lahan melalui tulisan dan tuturan yang ringan dan menular.

Jadi, yang betul Swara Suling, ya. Baik secara sejarah penciptaan lagu maupun secara rasionalitas liriknya. Masak gambang bunyinya tulat-tulit. Gitu.

 

Kira-kira demikian.

 

 

(Visited 3,341 times, 11 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *