Saya orang jawa. Secara de facto dan de jure memang demikian. Kedua orang tua saya orang jawa tulen, saya pun lahir di Tanah Jawa yang juga tulen. Oh ya, jangan salah ya, ada tanah jawa yang tidak tulen, lho. Tempat tersebut tidak lain dan tidak bukan bertahta pula di tanah jawa, tetapi kalau ada orang yang pulang ke daerah yang jawa tulen (yang sesungguhnya sama-sama di tanah jawa juga) orang-orang setempat akan berkata : “Pulang Ke Jawa, ya?”. Gitu, jadi udah tahu kan daerahnya mana-mana saja, saya gak sebut nama, yang penting kita sama-sama paham. Kira-kira demikian. Back to topic. Selain keadaan yang “given” oleh Tuhan Semesta Alam, tiada hal yang bisa saya buktikan bahwa saya orang jawa. Kecuali, bisa berbahasa jawa.

Tidak ada.

Ironis bukan? Itulah yang saya alami. Tanda-tanda yang membuktikan bahwa saya orang jawa hanyalah saya bisa berbahasa jawa. Sedangkan, tidak semua orang yang bisa berbahasa jawa adalah orang jawa. Lebih buruknya, dari semua ragam bahasa Jawa secara vertikal dan horisontal, saya hanya menguasai Basa Ngoko Semarangan. Menyedihkan sekali.

Oleh karena itu, untuk memunculkan jati diri jiwa jawa saya, saya ingin belajar berkesenian.

Seni Tari Jawa

Awalnya, saya memilih untuk mengikuti sanggar tari. Di sanggar itu, saya yang berusia 22 tahun ditempatkan di kelas dewasa pemula bersama anak-anak SMP. Saya tidak masalah, asal saya memang bisa mengikuti kelas dengan baik. Masalahnya, kecerdasan kinestetik saya sedikit kurang. Sehingga, diantara anak-anak SMP itu justru saya yang paling sulit mengikuti. Disitu saya merasa sangat malu. Karena tidak tahan malu berlama-lama, saya hanya bertahan latihan di sanggar tersebut selama satu bulan. Menyedihkan…

Seni Sastra Jawa

Selepas dari sanggar tari,  saya mencari jenis seni lain dan saya memilih seni sastra untuk dipelajari. Saya teringat pada serat yang membuat saya cinta pada kata-kata pujangga jawa dan bagaimana menyuratkan makna tersirat yang tak terbatas dalam kata-kata indah dan terbatas. Serat itu adalah Serat Tripama karya Sri Mangkunegara IV, yang bercerita tentang tiga suri tauladan utama bagi manusia Jawa : Kumbakarna, Adipati Karna dan Patih Suwanda. Di belantara Jakarta, saya berusaha mencari dan memburu buku-buku sastra Jawa yang tergolong langka. Saya berhasil mendapatkan beberapa buku idaman. Saya membacanya sembari mengisi waktu luang dan menggolongkan kegiatan ini sebagai kegiatan piknik otak. Tapi dalam kegiatan ini, saya hanyalah penikmat seni, penikmat kata-kata indah para Pujangga Jawa. Bukan pelaku seni itu sendiri. Sedangkan saya merasa membutuhkan ruang berekspresi.

Seni Musik Jawa

Saya masih konsisten secara aktif dan pasif menikmati seni sastra Jawa. Tiba-tiba, saya rindu bermain karawitan Jawa (Gamelan Jawa). Saya mencari di internet tentang sanggar Gamelan Jawa/ Karawitan Jawa di Jakarta yang touchable. Kemudian saya menemukan sebuah thread di KASKUS tentang Komunitas Gamelan Jawa di STBA LIA Pengadegan :

http://www.kaskus.co.id/post/52a6bb29a4cb17b67c8b4670/1

Saya sebenarnya tidak terlalu berharap komunitas gamelan anak muda tersebut masih aktif, mengingat saya mengontaknya di bulan Mei 2015 sedangkan thread tersebut terakhir di update pada 18 Desember 2013. Saya nekat mengontak nomor yang tertera di thread tersebut, yang ternyata bernama Putri Nurjannah. Dan cukup mengejutkan ternyata nomor tersebut masih aktif dan merespon saya. Dia meminta beberapa data untuk diemailkan, semacam data untuk formulir pendaftaran-lah. Saya pun segera mengirimkan data-data saya saking antusiasnya. Kemudian, mbak Putri Nurjannah menginformasikan bahwa latihan gamelan sekarang diselenggarakan setiap hari Minggu, pukul 10.00-selesai di sanggar Sekar Budaya Nusantara milik ibu Nani Soedarsono, mantan menteri di era orde baru, jl. Duren Tiga Raya no.38, Duren Tiga, Jakarta selatan. Oh ya, komunitas gamelan jawa ini sekarang mempunyai nama Samurti Andaru Laras, lengkapnya bisa dilihat di sini atau bisa juga cek instagram mereka di sini.

Penampakan Instagram Komunitas Gamelan Jawa Samurti Andaru Laras

Penampakan Instagram Komunitas Gamelan Jawa Samurti Andaru Laras

 

Awalnya saya ingin langsung bergabung latihan pada bulan Mei itu juga, tetapi kemudian ada panggilan tugas negara untuk dididik dan ditempa mental, fisik dan disiplinnya dalam suatu diklat selama 5 minggu. Sehingga, mau tidak mau saya menunda keikutsertaan saya seminggu setelah diklat usai, yakni pada tanggal 20 Juni 2015. Mbak Putri sangat baik sekali dan contactable, ia memandu saya menemukan tempat latihan gamelan SAL. Ternyata, tempatnya sangat mudah ditemukan. Ia berada sederetan dengan Klinik Estetika Duren Tiga Raya, tepatnya sebelah Alfamidi persis, hampir dekat dengan lampu merah perempatan Jalan Warung Buncit.

Pendapa tempat SAL berlatih Karawitan Jawa

Pendapa tempat Samurti Andaru Laras berlatih Karawitan Jawa

 

Latihannya cukup seru, rame ala ala anak muda, pelatihnya super murah senyum dan gak galak, gending-gendingnya bervariasi dan juga ada latihan vokalnya. Saya ikut latihan cukup konsisten dan hanya off ketika pulang kampung. Itu semua untuk melatih kedisiplinan belajar pada diri saya. Dan saya menganggap setiap sesi latihan karawitan Jawa bersama SAL setara dengan piknik, setara dengan nge-trip dan nge-adventure. Saat sedang asik-asik latihan untuk persiapan pentas di Auditorium IX Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada 30 Oktober 2015, tiba-tiba secarik surat panggilan tugas negara tiba dengan indahnya. Sehingga, saya harus off latihan karawitan Jawa selama kurang lebih 3 bulan karena harus Diklat di Pekanbaru. Yah, tidak apa-apa, semua demi, oleh dan teruntuk negaraku tercinta. Gapapa. Tapi mereka turut membagikan pengalaman pentas mereka berupa foto-foto di Group Whatsapp.

Samurti Andaru Laras

SAL mengiringi drama tradisional “Damarwulan Sang Pencerah Malam” tanggal 30 Oktober 2015 di Auditorium IX FIB UI.

Sepulang dari Diklat di Pekanbaru, saya kembali rutin latihan gamelan Jawa dengan konsisten dan hanya off saat pulang kampung. Semua tujuannya untuk  mendisiplinkan diri saya. Dan berlatih gamelan Jawa, jangan cuma terpatok untuk apa dan untuk ditampilkan dimana. Karena bermain gamelan Jawa adalah cara kita berkesenian. Dimana, seni lahirnya dari dalam hati, berupa rasa, yang dimanifestasikan dalam keindahan rupa, gerak, kata, dan suara. Berkesenian adalah soal menikmati dan melatih rasa.

Oh ya, seminggu kemarin kegiatan SAL cukup seru. Tanggal 8 Desember 2015, SAL diminta mengisi acara sebuah perusahaan di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta.

Penampilan Gamelan SAL di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta pada 8 Desember 2015

Penampilan Gamelan SAL di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta pada 8 Desember 2015

Pada tanggal 12 Desember 2015, SAL mendapat kunjungan dari Tim Menikmati Musik asal Malaysia.

Proses Perekaman Salah Satu Instrumen Gamelan Oleh Tim Menikmati Musik dari Malaysia

Proses Perekaman Salah Satu Instrumen Gamelan Oleh Tim Menikmati Musik dari Malaysia

 

Persiapan Foto Bersama SAL dan Tim Menikmati Musik dari Malaysia

Persiapan Foto Bersama SAL dan Tim Menikmati Musik dari Malaysia

 

Foto Bersama SAL dan Tim Menikmati Musik dari Malaysia

Foto Bersama SAL dan Tim Menikmati Musik dari Malaysia

Seru banget kan kegiatan Komunitas Gamelan Jawa Samurti Andaru Laras. Ayo gabung latihan Karawitan Jawa bersama SAL!

Yang mau ikut berlatih gamelan bersama maupun mau mengundang SAL untuk suatu acara bisa kontak Putri Nurjannah 0856 9125 6996.

 

Kira-kira demikian.

 

(Visited 2,663 times, 1 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *