Serat Wedhatama merupakan kitab yang ditulis oleh K.G.P.A.A. Sri Mangkunegara IV. Serat Wedhatama mengandung makna yang sangat dalam sekali artinya : Serat adalah Kitab, sedangkan Wedha mengandung arti Pengetahuan, dan Tama ialah Utama. Maka Serat Wedhatama bermakna Kitab Pengetahuan yang Utama.

Ajaran yang terkandung di dalamnya, mulanya oleh K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, ditujukan Untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram. Namun kemudian, diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya.

Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri, manunggaling kawula-Gusti, dan mendapat anugrah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban (meminjam istilah Gus Dur; dapat mengintip rahasia langit).

Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”. Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.S

Serat ini terdiri dari 100 padha (bait) tembang macapat, yang dibagi dalam lima pupuh, yaitu

  • Pupuh Pangkur (14 padha, I – XIV))
  • Pupuh Sinom (18 padha, XV – XXXII)
  • Pupuh Pocung (15 padha, XXXIII – XLVII)
  • Pupuh Gambuh (35 padha, XLVIII – LXXXII)
  • Pupuh Kinanthi (18 padha, LXXXIII – C)

Saya pribadi, jatuh hati pada serat ini karena kuat falsafahnya. Dalam hal kesusastraan dan falsafahnya, Sri Mangkunegara IV memang sealiran dengan R. Ng. Ranggawarsita yang juga merupakan sahabatnya. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Sri Mangkunegaran IV sangat kuat dalam tataran filosofisnya sedangkan R. Ng. Ranggawarsita menguasai kosa kata yang baik. Jadi wajar saja apabila Sri Mangkunegara IV tercatat sebagai salah satu filosof dunia, sebagaimana tercatat dalam “Le dictionnaire De Philosophie“.

Saya jatuh hati pada serat ini sudah cukup lama, namun sayang sekali untuk mendapatkan serat ini berbentuk buku yang utuh sangat sulit ditemukan di pasaran. Namun tiba-tiba pada suatu pameran buku di Semarang, saya menemukan Serat Wedhatama yang diterjemahkan dan dipaparkan ulang oleh Ki Sabdacaraka dan diterbitkan oleh Penerbit Narasi. Saya cukup puas dengan buku ini, karena terdapat teks asli dalam aksara latin lengkap dengan terjemahan bebasnya, juga ada sedikit ulasan singkat mengenai Serat Wedhatama dan Biografi Singkat Sri Mangkunegara IV. Penampakan bukunya nih…

buku-serat-wedhatama-mangkunegara-iv

Bagi yang mau membaca isi Serat Wedhatama secara lengkap, saya telah mengkompilasi beberapa naskah teks beserta terjemahannya dari beberapa sumber di internet. Kalian bisa mengunduhnya dalam bentuk PDF pada link ini.

 

PADHA (BAIT) FAVORIT

Dalam Serat Wedhatama ini, saya mempunyai bait-bait yang membuat saya sedikit berpikir keras untuk mengetahui apa makna tersirat yang ingin disuratkan dibalik kata-kata di bait-bait tersebut. Selain itu, dalam bait-bait ini pula saya dibuat kagum oleh kemampuan Sri Mangkunegara IV dalam memilih kata-kata dan menyusunnya dalam bait-bait tembang yang pakemnya kaku. Bagaimana dengan cita rasa seni dan falsafahnya, kata-kata dengan makna tak terbatas dapat diikat oleh batas-batas guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan dalam tembang jawa.

Bait favorit pertama saya yakni Pupuh Pangkur Padha I dalam serat ini. Bunyinya seperti ini :

Mingkar-mingkuring angkara,
Akarana karenan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming Aji.

Artinya kira-kira sebagai berikut :

Meredam nafsu angkara dalam diri,
Karena berkenan mendidik putra-putri,
Tersirat dalam indahnya tembang,
dihias penuh keindahan kata,
agar menjiwai hakekat  ilmu luhur,
yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara),
agama sebagai “pakaian” kehidupan.

Dalam padha (bait) ini, ada gatra (baris) yang membuat saya terngiang-ngiang tidak karuan : Agama ageming Aji”. Yah, agama memang seharusnya menjadi pakaian sejatinya kehidupan. Tidak perlu ditanyakan dan dipertanyakan, apalagi dituliskan dalam KTP atau Kartu Keluarga atau dokumen semacamnya. Apa yang tertulis di dalam dokumen-dokemen yang katanya resmi itu belum tentu mencerminkan sejatinya apa yang jalan menjadi hidup dan kehidupan kita. Karena agama adalah ageming aji, bukan ageming KTP. Apa yang tercermin dalam tindak-tanduk kita adalah sejatinya agama kita. Bukan yang tertulis dalam dokumen-dokumen yang katanya resmi tersebut. Karena yang tertulis tersebut belum tentu benar, dan yang benar belum tentu bisa dituliskan.

Bait yang menjadi favorit kedua saya yakni Pupuh Pocung Padha XXXIII, bunyinya seperti ini :

Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekese dur angkara

Artinya kira-kira sebagai berikut :

Ilmu (hakekat) itu,
Diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,
Dimulai dengan kemauan,
Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Kesadaran budi dengan menaklukkan semua angkara.

Dalam padha (bait) ini, ada gatra (baris) yang membuat saya manggut-manggut sambil denger lagu dangdut : “Ngelmu iku, kalakone kanthi laku”. Memang, ilmu yang sejati bukan hanya teori yang ngawang-ngawang. Ilmu yang seperti itu sulit dibayangkan, sebab ia mengawang bersama awan di langit sab tujuh. Ilmu yang seperti itu adalah ilmu langit yang hanya pantas dikuasai oleh para Dewa yang suci karena mereka yang bersemayam di sana. Tapi, di sisi lain, ilmu Dewata Agung itu perlu juga dikuasai manusia agar dia bisa memiliki hidup dan kehidupan yang baik dan lebih baik. Sehingga, ilmu langit tersebut perlu dibumikan melalui “laku”.

 

Salam,

 

Dilbar Sarasvati

kirakirademikian.com

(Visited 9,212 times, 14 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *