Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, puasa adalah
1. menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan);
2. salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari;
3. saum.
Intinya, menurut KBBI dan kebanyakan masyarakat, puasa adalah menahan nafsu. Pengertian itu juga yang saya pahami, meski itu dulu.
Ya, dulu saya memahami puasa sebagai kegiatan menahan nafsu dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Saya memahami dan melakukan hal itu selama kurang lebih 20 tahun hidup saya. Setiap menjalani sahur saat puasa, saya makan dan minum seoptimal mungkin, supaya saya tidak lapar ataupun haus dalam menunggu terbenamnya matahari. Saat menunggu terbenamnya matahari, sekelumit pikiran tentang “aku makan apa ya enaknya ketika buka puasa?” membayangi sepanjang waktu. Bahan, melihat iklan sirup di televisi aja cukup bikin kemecer (menelan ludah) sambil berpikir “Kayaknya seger…”. Hal itu membuat saya sedikit angah-angah. Apalagi jika menjalani puasa di Bulan Ramadhan, banyak penjual makanan dan minuman beraneka rupa tumbuh subur di sepanjang jalan, angah-angah ku pun turut tumbuh subur. Segala makanan dan minuman yang kuinginkan aku beli saja tanpa pikir panjang.
jajanan buka puasa
Setelah terbelinya segala rupa dan terbenamnya sang surya, saya bingung cara menghabiskan itu semua. Kelakuan saya memang terkesan kekanakan memang, mirip seperti kelakuan ipin dan upin dalam episode puasa. Bikin ngakak sih episode ipin upin ini, tapi sebenarnya kita pernah mengalaminya. Minimal saat kanak-kanak, minimal saat awal-awal puasa Ramadhan.


Selain itu, saat menjalani puasa, saya sangat perhitungan. Berapa hutang puasa saya, berapa pahala saya, apakah cukup puasa saya untuk mendapatkan surga-Nya.
Tapi entah dapat wangsit darimana, tiba-tiba saya merasa bahwa selama ini saya menjalani dan memahami puasa secara salah. Ya, salah.

 

Memahami Ulang Makna Puasa
Puasa berasal dari Bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa, di mana Upa artinya mendekat, dan Wasa artinya Yang Maha Kuasa. Sehingga, secara etimologis bisa diartikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Puasa merupakan salah satu bentuk sembah Hyang, ibadah, tapa, semedi atau apapun istilahnya dengan mengendalikan hawa nafsu pada waktu tertentu. Puasa adalah sarana melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu. Sehingga, semakin sering dijalani dengan cara dan tujuan yang benar, semakin terlatih kita dalam mengendalikan nafsu.

menahan nafsu makan saat puasa
Kenapa bukan menahan? Tetapi melatih mengendalikan nafsu?
Ini bukan soal benar salah arti puasa, apakah menahan atau bukan. Tapi ini hanya tentang pemahaman pribadi yang bisa jadi berbeda-beda setiap orang.
Menahan hawa nafsu, layaknya menahan rasa ingin buang air kecil/ besar. Bagaimana pun cara kamu menahan, pasti suatu saat “ia” akan keluar juga. Artinya, setelah menahannya, suatu saat mau tak mau kita harus menurutinya untuk keluar. Begitu juga menahan nafsu, misalnya nafsu makan dan minum. Bagaimana pun cara kita menahan nafsu makan dan minum, pada akhirnya kita memang harus makan dan minum. Buat apa menahan nafsu makan minum sekian lama, jika pada saat berbuka puasa kita malah menuruti nafsu kita tanpa kendali. Segala yang ingin dimakan, dimakan. Segala yang ingin diminum, diminum. Tetap angah-angah sepanjang menjalani proses menahan nafsu makan dan minum itu. Lalu apa yang berhasil kita capai dengan puasa seperti itu? Pahala? Surga? Hanya sebatas itu kah?
Berbeda dengan saat kita memahami puasa sebagai sarana melatih diri dalam mengendalikan nafsu. Misalnya, ketika kita menjalani puasa makan dan minum, dan kita melihat berbagai makanan yang tersaji, kita akan selalu mengingat untuk mengendalikan nafsu kita. Bahkan, saat berbuka puasa, kita tidak akan sengaja mencari makanan atau minuman tertentu yang terbayang sepanjang waktu puasa. Tidak akan. Ya sudah, makan seadanya, minum seadanya. Karena saat berbuka adalah saat pembuktian, apakah latihan pengendalian nafsu kita sepanjang waktu tadi berhasil. Apakah kita berhasil memperlakukan suka dan duka secara sama.
Tentang tujuan, puasa bukan semata-mata untuk mengumpulkan seperiuk pahala. Bukan pula untuk memperpendek jarak untuk menuju surga-Nya. Tetapi, puasa meleburkan sifat vana dari dunia dalam diri kita, sehingga dengan hal tersebut kita dapat mencapai keadaan Nirvana (Nirwana). Nirvana bukanlah tempat, bukanlah ketiadaan, bukan pula surga. Nirvana adalah keadaan saat kita menjadi nir (terbebas) dari segala kekotoran vana (dunia). Keadaan saat leburnya personalitas menjadi hakikat tanpa batas. Saat aku juga adalah kamu. Saat itulah kebahagiaan tertinggi.

Kira-kira demikian.

(Visited 301 times, 1 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *