Saya suka nembang. Kadang saya melakukannya tanpa sadar, seperti orang bersiul atau bernyanyi sambil mengerjakan sesuatu. Karena kebiasaan saya yang tidak tahu waktu dan tempat, terkadang memancing orang untuk bertanya. Dan pada umumnya pertanyaannya seperti ini : “Eh, kamu bisa nembang lingsir wengi? Katanya itu bisa manggil setan ya?”. Dan ketika pertanyaan itu menyerang seperti negara api, saya bingung harus menjelaskan dari sebelah mana.
Sebenarnya, ada 3 jenis tembang lingsir wengi yang populer di masyarakat, terutama di kalangan orang jawa yang agak njawani. Kira-kira pembagiannya demikian :

 

1.    Tembang Campursari Lingsir Wengi

Tembang lingsir wengi campursari ini ciptaan Sukap Jiman dan dipopulerkan oleh Nurhana. Lagu ini bertemakan percintaan, liriknya sebagai berikut :

Lingsir Wengi
Saat menjelang tengah malam
Sepi durung bisa nendra
Sepi tidak bisa tidur
Kagodha mring wewayang
Tergoda akan bayangan
Kang ngreridhu ati
Yang menggoda hati

Kawitane
Awalnya
Mung sembrana, njur kulina
Hanya bercanda, lalu menjadi terbiasa
Ra ngira, yen bakal nuwuhke tresna
Tidak disangka, bila akhirnya menumbuhkan cinta

Nanging duh tibane, aku dewe kang nemahi
Tapi pada kenyataannya, aku sendiri yang mengalami
Nandang branta
Mengalami kerinduan yang memuncak
Kadung lara
Terlanjur sakit
Sambat, sambat sapa?
Ingin mengeluh, tapi mengeluh pada siapa?

Rina wengi
Siang malam
Sing tak puji, aja lali
Yang kudoakan, jangan lupa
Janjine, muga bisa tak ugemi
Janjinya, semoga bisa kupercaya

Kalau mau dengar versi Lingsir Wengi oleh Nurhana, ini dia, ini dia, ini dia…

Kalau mau denger yang agak modified version, ada nih dari Bossanova Jawa. Enak didenger, ala-ala anak muda nan modern.

Nah, dari tembang ini dapat kita ambil simpulan bahwa tembang tersebut memang sungguh-sungguh tembang cinta. Tipikal cinta yang sering terjadi diantara muda-mudi yang terjadi karena awalnya hanya karena canda bersama yang kemudian berubah menjadi candu. Akibatnya, bikin gregel dalam hati kalau tidak ketemu dia, dia, dia. Cinta memang begitu kan?

 

2.    Kidung Rumeksa Ing Wengi

Dalam bahasa jawa, kidung itu berarti lagu/ nyanyian.  Kidung Rumeksa Ing Wengi ini diambil dari Serat Mantra Wedha karya Kanjeng Sunan Kalijaga yang keseluruhannya berupa tembang macapat, yakni dhandanggula. Serat Mantra Wedha sendiri terdiri dari 5 pupuh atau bab, yakni mantra wedha, sukma wedha, darma wedha, japa wedha, dan jiwa wedha. Nah, yang populer sebagai Kidung Rumeksa Ing Wengi itu merupakan Pupuh Mantra Wedha dari Serat Mantra Wedha. Pupuh tersebut terdiri dari 9 bait, namun yang paling populer dari yang populer tersebut adalah bait pertama yang isinya kira-kira dmikian :

Ana kidung rumekso ing wengi
Ada nyanyian berkumandang di malam hari
Teguh hayu luputa ing lara
Yang menjadikan kuat, selamat, terbebas dari segala penyakit
Luputa bilahi kabeh
Terbebaskan dari segala petaka
Jin setan datan purun
Jin setan pun tidak mau
Paneluhan tan ana wani
Segala jenis teluh/ sihir tidak ada yang berani
Niwah panggawe ala
Apalagi perbuatan jahat
Gunaning wong luput
Guna-guna tersingkir
Geni atemahan tirta
Api menjadi air
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Pencuri pun menjauh dariku
Guna duduk pan sirno
Segala bahaya akan lenyap

Bagi yang mau mendengarkan Serat Mantrawedha lengkap, ini dia…

Jadi, dapat dilihat sendiri kan kidung diatas tidak lain dan tidak bukan berisi do’a keselamatan. Keselamatan dari apa saja. Sehingga, kidung ini cocok banget dilantunkan usai sembah Hyang malam. Supaya kita dapat melakukan koneksi dengan Tuhan Semesta Alam dalam lantunan nada yang indah dan menyentuh kalbu.

 

3.    Tembang Lingsir Wengi di Film Kuntilanak

Nah, ini adalah tembang lingsir wengi yang paling populer di masyarakat awam. Tembang ini dipopulerkan oleh Film Kuntlanak yang di-declare sebagai film ber-genre horor, tapi pada kenyataannya, entahlah. Di dalam film itu, tembang ini digadang-gadang bisa memanggil makhluk halus atau setan atau hantu atau sejenisnya atau derivatnya. Dalam beberapa sumber di internet, disebutkan bahwa tembang ini merupakan tembang macapat, yakni durma. Meski menurut analisis pribadi saya bukan. Salah satu alasannya adalah tidak terpenuhinya kriteria guru wilangan dan guru lagu tembang tersebut untuk disebut sebagai durma.

Lingsir wengi sliramu tumeking sirna (12a)
Menjelang malam dirimu mulai sirna
Aja tangi nggonmu guling (8i)
Jangan bangun dari tempat tidurmu
Awas ja ngetara (6a)
Awas jangan menampakkan diri
Aku lagi bang winga winga (9a)
Aku sedang dalam kemarahan besar
Jin setan kang tak utusi (8i)
Jin dan setan yang kuperintah
Dadya sebarang (5a)
Jadilah apa saja
Waja lelayu sebet (7e)
Jangan membawa maut

Ini adalah lingsir wengi paling populer, tapi juga yang akhirnya membuat orang mempunyai pandangan yang salah terhadap tembang jawa secara umumnya, dan tembang lingsir wengi secara khususnya. Pandangan bahwasanya tembang-tembang jawa, terutama lingsir wengi adalah mistis.

Kalau mau dengar seperti apa tembangnya, atau kalau mau sekedar cuci mata karena ada Julie Estelle-nya, monggo

Berdasarkan analisis saya diatas, guru wilangan dan guru lagu tembang tersebut adalah 12a, 8i, 6a, 9a, 8i, 5a, 7i. Sedangkan pakem guru wilangan dan guru lagu untuk tembang durma adalah 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i. Kesimpulannya, tembang tersebut tidak memenuhi kriteria untuk disebut durma. Meskipun, guru gatranya memenuhi pakem, yakni 7 gatra dan ada beberapa gatra yang memiliki guru wilangan dan guru lagu yang memenuhi pakem. Tetap saja pakem adalah pakem. Pakem memiliki sifat seperti atasan/ bos kita di kantor, dimana ketentuannya sebagai berikut :
1. Pakem selalu benar, kita sebagai pujangga selalu salah.
2. Jika pakem salah, kembali lagi ke aturan no.1.
Jadi, kalau masih ada yang menganggap tembang tersebut adalah durma. Yah, monggo mawon

Kalau dari segi isi, tembang lingsir wengi ini memang terkesan agak seram karena ada gatra “Jin setan kang tak utusi”, tapi perlu diingat juga kalau ada gatra “Waja lelayu sebet”. Jadi kalau menurut saya pribadi, tembang ini bukan untuk memanggil makhluk halus dalam hal buruk dan memancing keburukan. Tapi lebih ke mangajak makhluk tadi untuk lebih bersinergi dengan kita manusia dengan tidak saling mengganggu dalam keburukan.

 

Rahayu,

 
 

Dilbar Sarasvati
kirakirademikian.com

(Visited 1,366 times, 2 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

2 Comments

Donald

Suka dengan halaman ini, juga dengan domain naming-nya.
“Kira-kira demikian” atau “Tar hira-hira boti ma” (dalam bahasa Batak Toba) seyogyanya merupakan sikap yang harus dimiliki oleh pembelajar dan penulis manapun.
Ini ungkapan paling jujur sekaligus disclaimer bagi pembaca bahwa apapun konten yang disajikan adalah kira-kira (tentu dengan asumsi lebih banyak benarnya), dan dengan demikian terbuka dengan pandangan yang lebih baik.

Salam Kompasianer.

😉

Reply
Dilbar Sarasvati

Salam kenal,
saya sedang belajar menulis melalui blog ini.
Semoga bisa menjaga konsistensi karena itu musuh terbesar saya.

Salam kompasianer (balik?)

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *