RASA PENASARAN DENGAN MEMORI YANG MENYERUAK

Lela Ledhung ini tembang jawa yang sangat berkesan buat saya pribadi. Saya ingat dengan samar-samar, sewaktu kecil entah umur berapa, ada seorang perempuan yang menggendong saya, menimang-nimang saya, meninabobokan saya, sambil menyanyikan lagu ini dengan penuh kasih. Tapi saya tidak yakin perempuan itu ibu saya. Sebab seingat saya, suara perempuan itu sangat bagus saat nembang lagu ini. Suaranya indah, mendayu dan mengalir dari dalam kalbu. Saya sempat berpikir itu pasti mbah putri (nenek). Tapi kemudian saya meragu, sebab mbah putri meninggal setahun setelah saya lahir. Masak baru umur berapa bulan saya sudah bisa mengingat? Kan gak mungkin, to. Kayak IQ saya ketinggian aja, hehe
Jadi, saking saya bingung perempuan itu siapa, saya sampai bertanya pada ibu.

“Bu, Bu, dulu pas aku kecil, aku inget banget ada yang nyanyiin lagu lela ledhung. Tapi aku lupa Itu siapa, Bu. Itu mbah putri ya, Bu?”

“Lah, itu Ibu yang nyanyiin kamu. Kamu inget, to?”

“Ah masak sih, suara ibu bisa bagus gitu? Suara ibu kan mblero (tidak stabil).” (Kalimat terkhir gagal terucap karena takut dikutuak jadi batu)

“Lah dulu kan ibu masih muda…”

Gitu. Jadi setelah sesi tanya jawab tersebut, saya berusaha percaya itu suara ibu saya. Meski kalau dari kualitas suara saya masih tidak yakin itu ibu saya, sebab suara ibu saya sekarang agak mblero (tidak stabil). Tapi tak mengapa, anggap saja degradasi suara ibu saya memang terjadi karena umur dan kurang latihan. Tapi kalau dari sisi memori perasaan masa lalu yang menyeruak, saya benar-benar percaya itu ibu saya. Ketika mendengar lagu lela ledhung, entah mengapa…

pelukan-gendong-ibu
Saya ingat rasanya pelukan hangat itu.
Saya ingat rasanya timang-timang lembut itu.
Saya ingat rasa hangatnya kasih yang mengalir bersama tembang itu.
Saya ingat betapa nyamannya saya saat itu.
Kemudian, saya ingat itu ibu saya.
Kemudian, saya ingat harapan besar dan doa orang tua saya, terutama ibu saya  kepada saya.

Jadi sekarang kalau denger lagu lela ledhung, saya ingat ibu. Saya juga ingat harapan ibu terhadap saya. Bahkan ketika saya dalam kondisi kegalauan mental dan rindu hangat serta tenangnya rasa dalam dekapan ibu, saya selalu mendengar dan/atau menyanyikan lagu lela ledhung. Entah mengapa, setelah itu saya menjadi lega.

 

LIRIK DAN MAKNA LAGU LELA LEDHUNG

Tembang Lela Ledhung ciptaan Ki Narto Sabdo ini memang lagu penenang jiwa. Lagu yang bukan hanya bisa menenangkan yang menyanyikan, tapi juga yang mendengar. Lagu yang bukan hanya sekedar lagu, tapi juga do’a orang tua bagi anaknya. Lagu ini merangkai harapan dengan hangatnya kasih sayang orang tua yang sepanjang masa.
Bagi yang belum tahu lagunya, berikut lirik dari lagu Lela Ledhung beserta arti dan maknanya.

Bait Pertama

Tak lela lela lela ledung,
Cup menenga aja pijer nangis,
Anakku sing ayu (bagus) rupane,
Yen nangis ndak ilang ayune (baguse),
Tak gadang bisa urip mulya,
Dadiya wanita (priya kang) utama,
Ngluhurke asmane wong tuwa,
Dadiya pandekaring bangsa.

Artinya kira-kira sebagai berikut :

Timang-timang anakku sayang,
Diamlah jangan menangis terus,
Anaku yang cantik (ganteng),
Kalau nangis nanti hilang cantiknya (gantengnya),
Kudoakan agar hidupmu mulia,
Jadilah wanita (laki-laki yang) utama,
Mengharumkan nama orang tua,
Jadilah pahlawan bangsa.

Saya mendengarkan bagian ini berkali-kali dan mencoba menginterpretasikan maknanya. Akhirnya, saya bisa sedikit memahami kata-kata dalam bait ini yang sepintas terlihat sederhana, tapi sarat makna. Dalam bait ini dikisahkan, selain mencoba menenangkan si anak yang menangis, sang orang tua menuturkan pengharapan bahwa si anak kelak ketika dewasa akan bersahaja, menjadi manusia yang sejati, mengharumkan nama keluarga dan berguna bagi nusa bangsa. Adanya kata “dak gadhang” menunjukkan pengharapan orang tua kita bukanlah pengharapan bisa, melainkan pengharapan yang sangat besar.

Sehingga, lagu ini menjadi lagu yang sangat berarti bagi saya pribadi. Dengan lagu ini saya memahami betapa besar tugas saya sebagai bagian kesejatian diri saya, juga sebagai bagian dari keluarga, bangsa dan negara. Setiap menyanyikan dan/ atau mendengarkan lagu ini dalam kondisi demotivasi atau depresi, saya seperti diingatkan bahwa saya punya kewajiban dan tanggung jawab yang besar. Dan itu semua bukanlah beban.

Tentang tangisan, saya pernah membaca entah di mana. Yang jelas, ada dua jenis tangisan yang pasti mengiringi kehidupan kita di dunia ini, yaitu tangisan kita saat menjelma dalam ke”ada”an di dunia ( baca : lahir di dunia) dan tangisan orang-orang di sekitar kita saat kita melebur dalam ke”tiada”an dunia ( baca : meninggalkan dunia). Saat kita lahir, kita menangis karena kita seperti telah tahu tugas kita di dunia pasti akan berat. Saat kita meninggal, orang-orang di sekitar kita akan menangis, bukan karena sedih akan kepergian kita, melainkan karena iri kepada kita. Sebab saat meninggal, tugas kita yang berat itu telah berakhir sedangkan mereka masih harus menanggung tugas mereka di dunia. Setelah mendengar ulang lagu tak lela ledhung dan meresapinya, saya jadi memahami kenapa ketika kecil saya sering menangis dan semakin besar saya semakin malu untuk menangis. Karena ketika lahir saya hanya menyadari tugas saya adalah beban, sehingga saya sering menangis karena takut mengemban tugas itu. Tapi semakin besar, saya semakin menyadari bahwa tugas saya itu bukanlah beban, melainkan kewajiban dan tanggung jawab. Saya punya hutang yang tidak tampak kepada diri saya sendiri, keluarga, bangsa dan negara, sehingga saya bisa hidup yang patut disyukuri seperti sekarang ini. Dan saya harus membayar hutang tersebut dengan menunaikan tugas saya. Karena kewajiban bukanlah beban, baik secara konsep dari sisi finance atau accounting dan secara faktual dari sisi kehidupan secara agregat.

Bait Kedua

Wis cup menenga anakku
Kae mbulane ndadari
Kaya butha nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis

Artinya kira-kira sebagai berikut :

Sudah diamlah anakku
Lihatlah bulannya sedang purnama
Seperti raksasa yang menakutkan
Sedang mencari anak yang sedang menangis

Bait ini, jujur saja sedikit aneh untuk diterjemahkan dan sulit untuk dipahami maknanya. Saya berusaha keras menyuratkan makna yang tersirat dalam bait ini. Dalam bayangan saya, ketika menyanyikan bait ini, sang ibu sedang dalam keadaan gelisah karena anaknya tak kunjung berhenti menangis. Lalu ia menunjuk bulan yang sedang purnama di kelamnya langit malam sambil berkata, “Diamlah anakku, itu lho bulannya purnama layaknya raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis.”. Mungkin, secara tersirat bait ketiga ini maknanya seperti ini :

Langit yang kelam diibaratkan kegelapan, sedang bulan yang bersinar terang adalah penguasa kegelapan tersebut. Sang penguasa kegelapan itu tampaknya terang dan baik, tapi diam-diam ia seperti buto yang sedang mencari mangsa untuk ditarik dalam kegelapan tersebut. Jadi, bait ini menyampaikan pesan kepada sang anak bahwa dalam hidup ini kita harus selalu eling/ waspada. Karena, apa yang yang tampaknya baik, belum tentu baik. Begitu juga dengan apa yang tampaknya buruk, belum tentu buruk. Urip iku mung sawang sinawang, nanging aja mung nyawang sing kesawang. Maksudnya, hidup hanyalah tentang melihat dan dilihat, tapi jangan hanya melihat dan mengambil kesimpulan dari apa yang terlihat. Selain itu, kita juga diingatkan untuk tidak pernah menyerah (apalagi sampai menangis, hehe…), dalam melawan kegelapan, apapun manifestasinya.

Bait Ketiga

Tak lela lela lela ledung
Enggal menenga ya cah ayu (bagus)
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung

Artinya kira-kira sebagai berikut :

Timang-timang anakku sayang
Cepat diamlah duhai anakku yang cantik (ganteng)
Kugendong dengan kain batik kawung
Kalau masih menangis ibu nanti bertambah bingung
Tak lela lela ledung.

Pada bait terakhir ini pilihan kata-katanya juga sederhana, tapi sarat makna. Kata “dak emban” memiliki makna bahwa si anak didekap erat oleh sang orang tua. Dekapan sudah semestinya dekat dengan dada, tempat dimana jantung dan paru-paru terletak. Artinya si anak adalah darah dan nafas sang orang tua.
Selain itu, pemilihan kata-kata “selendang bathik kawung” dalam bait ini memiliki makna tersendiri, bukan hanya untuk mencocokkan rima dengan bait sesudahnya agar terlihat lebih selaras dan harmonis (dak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung). Kenapa harus batik kawung? Bukankah banyak jenis motif batik? Ada motif parang rusak, parang barong, semar mesem mendem dan lain-lain.

batik-tulis-motif-kawung-klasik
Bagi orang jawa, setiap motif batik memiliki makna. Karena batik tercipta dari seni, yakni seni rasa yang kemudian dimanifestasikan menjadi seni raga. Batik kawung tersendiri merupakan batik motif bulatan kecil mirip buah kawung, sejenis kelapa yang sering juga dianggap sebagai kolang-kaling yang ditata secara geometris. Kelapa merupakan tanaman yang oleh orang jawa banyak digunakan sebagai penyokong kehidupan dan selalu lurus dalam pertumbuhannya. Motif ini juga sering di interpretasikan sebagai gambar teratai yang melambangkan ketenangan, kebijaksanaan, kesucian dan umur panjang. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Itulah semua makna filosofi saat orang tua mengemban anaknya dengan slendang batik kawung.

 

NOTASI LELA LEDHUNG UNTUK GAMELAN JAWA

Bagi yang mencari notasi Lela Ledhung untuk panduan bermain karawitan/ gamelan, saya telah mengetik ulang dari Buku Kempalan Langgam Karawitan Jawi karya Sri Widodo Biman Putra Terbitan CV Cendrawasih – Surakarta. Lela Ledhung dari refrensi buku saya tersebut menggunakan Laras (tangga nada) Pelog Barang. Berikut Bawa (semacam puisi yang biasanya dalam bentuk tembang macapat untuk pembuka lagu) dan Cakepan (lirik) dari Langgam Lela Ledhung, monggo…

notasi-lela-ledhung-laras=pelog

notasi-lela-ledhung-laras-pelog-barang

Jikalau kurang nyaman dengan tampilan diatas, bisa download dalam bentuk pdf nya di link ini. Perbedaan sedikit kata-kata bawa dan cakepan yang terjadi diantara berbagai refrensi yang ada adalah hal yang biasa, yang penting tidak mengurangi makna secara agregat dalam lagu tersebut.

 

MENDENGAR ULANG LAGU LELA LEDHUNG

Tidak semua orang bisa membaca dan menyanyikan notasi lagu di atas. Apalagi dengan titi laras (tangga nada) gamelan jawa yang berbeda dengan alat musik masa kini dan kekini-kinian. Selain itu, tidak semua orang mengingat dengan jelas bagaimana nyanyian lagu ini karena sudah terlampau lama tidak mendengar dan/atau menyanyikannya. Untuk refrensi mendengarkan ulang lagu lela ledhung, kita bisa mencarinya di youtube. Ada banyak versi tentunya, tetap yang menjadi favorit saya adalah versi aransemen dari SA’UNINE yang dinyanyikan oleh Sruti Respati.

 

Kira-kira demikian.

(Visited 1,860 times, 10 visits today)

Written by Dilbar Sarasvati

Siapa saya dan saya siapa? Mari kita cari tahu kesejatian diri kita bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *